SSB Bapack Jogja, Ruang Menghidupkan Kembali Mimpi Masa Kecil

Anisatul Umah
Anisatul Umah Minggu, 25 Oktober 2026 13:57 WIB
SSB Bapack Jogja, Ruang Menghidupkan Kembali Mimpi Masa Kecil

Pelatih dan anggota Sekolah Sepak Bola (SSB) Bapack Jogja berfoto bersama dalam latihan kedua di di Lapangan Sidokabul, Umbulharjo, Kota Jogja, Sabtu (24/10/2026)./Harian Jogja-Anisatul Umah

Keinginan bermain sepak bola tidak selalu berhenti ketika seseorang beranjak dewasa dan disibukkan dengan pekerjaan. Di Lapangan Sidokabul, Umbulharjo, Kota Jogja, sekelompok bapak kembali merasakan keseruan bermain sepak bola melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) Bapack Jogja. Bersama pelatih berlisensi C AFC/PSSI, mereka belajar teknik permainan sekaligus menghidupkan kembali mimpi masa kecil.

Setelah 160 hari tanpa hujan, Jogja akhirnya kembali diguyur hujan pada Sabtu (24/10/2026), sejak pagi hingga siang hari. Hujan perdana itu membuat suasana Lapangan Sidokabul terasa sejuk ketika para anggota SSB Bapack Jogja mengikuti latihan pekan kedua pada sore harinya.

"Kaki kiri, kaki kiri, ya, kaki kiri," seru pelatih sembari berkeliling mengoreksi gerakan dan memberikan arahan. Sesekali, pujian seperti "Good, terus-terus, yes!" terdengar untuk menyemangati peserta agar tetap berusaha mengikuti instruksi.

Di sela latihan, pelatih juga meminta peserta beristirahat sejenak. "Ayo, istirahat. Rileks-rileks, ambil napas, silahkan minum."

Jeda tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan latihan. Perut yang mulai membuncit dan napas yang tersengal-sengal tidak menyurutkan semangat mereka mengikuti setiap arahan.

Meski sebagian peserta sebelumnya tidak saling mengenal, kini mereka berkumpul di lapangan dengan tujuan yang sama: belajar bermain sepak bola, menjaga kebugaran, dan menikmati kembali olahraga yang pernah menjadi bagian dari masa kecil.

Menghidupkan Kembali Inner Child Lewat Sepak Bola

Salah satu peserta, Al Kahfi Sidik, mengatakan keputusannya bergabung dengan SSB Bapack Jogja berangkat dari keinginan menekuni kembali olahraga yang pernah digelutinya saat duduk di kelas 4–5 sekolah dasar (SD).

Kesibukan sekolah ketika itu membuatnya berhenti berlatih sepak bola. Seiring bertambahnya usia, aktivitas dan tanggung jawab pun berubah. Namun, keinginan untuk kembali bermain bola tetap ada.

Kini, setelah memiliki kemampuan finansial dan kesempatan yang lebih memadai, pria berusia 31 tahun asal Palembang yang telah tinggal di Jogja sejak 2012 itu kembali ke lapangan. Ia mengaku pernah bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional.

"Pastinya. Bisa dibilang semua cita-cita anak-anak yang suka main bola adalah jadi pemain sepak bola dewasanya. Cuma mungkin enggak kesampaian," kenangnya.

Menurut Al Kahfi, metode latihan di SSB Bapack Jogja tidak jauh berbeda dengan latihan sepak bola yang pernah diikutinya ketika kecil. Bedanya, pelatih menyesuaikan intensitas latihan dengan usia peserta agar mereka tetap bisa mempelajari teknik dasar tanpa terlalu membebani fisik.

"Bisa dibilang ini inner child. Sangat-sangat inner child. Bisa dibilang semua di sini hampir 80% inner child," ucapnya, yang sehari-hari bekerja di dunia perhotelan.

Bagi Al Kahfi, SSB Bapack Jogja bukan sekadar tempat berolahraga. Ia juga menemukan kesempatan untuk bertemu teman baru dan belajar kembali berbagai aspek permainan, mulai dari teknik dasar, cara membuka ruang, hingga strategi yang lebih kompleks.

Ia berharap komunitas tersebut dapat berkembang menjadi wadah bagi seluruh anggota keluarga. Dengan begitu, kegiatan sepak bola tidak hanya menjadi aktivitas para bapak, tetapi juga dapat melibatkan istri dan anak-anak mereka.

"Harapannya bisa jadi wadah buat keluarga kita. Jadi enggak cuman kita sebagai bapak-bapak, bisa jadi anak kita nanti, istri kita juga. Ya mungkin hampir sama nanti bapak-bapak jadi punya alasan untuk latihan sepak bola, enggak cuman bapak-bapaknya, ibu-ibu dan anak-anaknya juga bisa, itu yang pertama. Yang kedua mungkin ya untuk konsistensinya. Harapannya untuk saya sendiri saya bisa konsisten dan teman-teman juga bisa konsisten biar SSB ini tetap berjalan dengan baik," ucapnya.

Kembali Bugar Setelah Sibuk Bekerja

Cerita serupa datang dari Muhammad Abdul Hadi Hasan. Pria berusia 34 tahun asal Jakarta itu bergabung dengan SSB Bapack Jogja untuk kembali menjaga kebugaran tubuh setelah cukup lama tidak aktif bermain sepak bola.

Ia mengaku sempat rutin bermain bola hingga masa SMA. Namun, setelah bekerja di sektor perbankan, waktunya untuk menekuni olahraga tersebut semakin terbatas.

Ketertarikannya bermula ketika melihat informasi mengenai sekolah sepak bola untuk bapak-bapak di Depok melalui Instagram. Saat itu, ia berharap kegiatan serupa bisa hadir di Jogja. Harapan tersebut terwujud sekitar satu hingga dua bulan kemudian, ketika ia menemukan informasi pendaftaran SSB Bapack Jogja melalui Threads.

"Yang pasti pertama bugarin badan lagi. Karena saya termasuk sering aktif main bola sampai SMA, cuma semenjak kerja di bank kan enggak mungkin aktif main sepak bola lagi," kata Abdul Hadi.

Kecintaannya terhadap sepak bola ternyata masih terjaga melalui permainan Football Manager yang hingga kini masih ia mainkan. Dari permainan tersebut, ia terbiasa mengatur taktik dan strategi tim secara virtual.

Keberadaan SSB Bapack Jogja memberinya kesempatan untuk merasakan langsung perbedaan antara mengatur strategi melalui permainan dan mempraktikkannya di lapangan.

"Ternyata ada sekolah sepak bola untuk bapak-bapak, coba lagi apakah nanti versi game dengan yang aslinya yang sekarang itu akan mirip dan sebagainya," jelasnya.

Selain ingin kembali bugar, Abdul Hadi berharap bisa konsisten mengikuti latihan agar tetap sehat di usia yang tidak lagi muda. Ia juga ingin menjadikan komunitas tersebut sebagai ruang untuk menjalin silaturahmi dan memperluas pertemanan.

"Ini kan rencana jadi family SSB ya, dan itu harapannya enggak cuma kita bapak-bapak aja, jadi bisa saling punya relasi dengan keluarga-keluarga yang lain," ucapnya.

Berawal dari Minat Bapak-Bapak Belajar Sepak Bola

SSB Bapack Jogja didirikan oleh Muhammad Awaluddin Patiroi, yang akrab disapa Nuno. Ia juga menjadi salah satu pelatih dalam kegiatan tersebut.

Nuno mengatakan latihan perdana SSB Bapack Jogja digelar pada 17 Oktober 2026. Tanggal tersebut sekaligus menjadi penanda berdirinya sekolah sepak bola yang secara khusus menyasar peserta dewasa.

Gagasan mendirikan SSB untuk bapak-bapak muncul dari pengamatannya terhadap tingginya minat orang dewasa untuk belajar sepak bola. Ia melihat banyak bapak, termasuk teman-temannya sendiri, yang ingin mendalami olahraga tersebut.

Menurutnya, kegiatan sepak bola bagi orang dewasa selama ini lebih banyak berfokus pada fun football atau bermain untuk bersenang-senang. Melalui SSB Bapack Jogja, ia ingin memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari teknik dan metode bermain sepak bola yang benar.

Pesertanya pun memiliki rentang usia yang beragam, mulai dari dewasa muda hingga mereka yang berusia mendekati 50 tahun.

"Ini yang paling muda kita ada usia 24 tahun, yang paling tua itu ada di usia 47 tahun. Menurut saya kalau untuk belajar itu kita enggak bisa ngeliat usia," tuturnya saat ditemui di sela-sela latihan.

Hingga latihan kedua, SSB Bapack Jogja telah memiliki hampir 50 peserta yang terdaftar secara resmi. Antusiasme masyarakat untuk bergabung cukup tinggi, tetapi jumlah peserta dibatasi menyesuaikan kapasitas lapangan.

Nuno mengatakan pihaknya membuka kemungkinan untuk menambah lokasi latihan atau mengatur jadwal pada waktu berbeda. Rencana tersebut masih akan dikaji dengan mempertimbangkan tingginya minat peserta dan keterbatasan waktu, mengingat sebagian besar anggota hanya memiliki waktu luang pada akhir pekan.

Saat ini, SSB Bapack Jogja memiliki delapan pengurus dan dua pelatih profesional. Nuno juga tidak menutup kemungkinan menambah pelatih jika dibutuhkan.

"Saya sendiri lisensi C AFC/PSSI, Coach Dodi juga. Jadi kita sepakat untuk memberikan ilmu, memberikan pelajaran, ya kita harus punya basic ilmunya juga," paparnya.

Biaya Latihan Diupayakan Tetap Terjangkau

Untuk bergabung dengan SSB Bapack Jogja, peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp250.000. Setelah mendaftar, mereka diminta mengirimkan data diri untuk ditinjau, termasuk terkait kondisi kesehatan dan kemampuan mengikuti aktivitas fisik.

Selanjutnya, peserta membayar iuran sebesar Rp25.000 setiap kali mengikuti latihan. Menurut Nuno, biaya tersebut diupayakan tetap terjangkau agar tidak membebani peserta yang ingin belajar sepak bola sekaligus bersenang-senang.

Pemeriksaan informasi awal mengenai kondisi peserta juga menjadi bagian dari pertimbangan sebelum mereka mengikuti aktivitas fisik. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah peserta memiliki kondisi kesehatan yang memungkinkan untuk berolahraga dan mengikuti kegiatan di lapangan.

"Kira-kira punya alasan kesehatan untuk enggak ikut bertanding, apakah memang sanggup untuk olahraga, segala macam," jelasnya.

Ke depan, SSB Bapack Jogja juga berencana mengembangkan konsep SSB Family. Melalui konsep ini, kegiatan belajar sepak bola diharapkan dapat melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk istri dan anak-anak peserta.

Dengan demikian, latihan tidak hanya menjadi ruang bagi para bapak untuk menghidupkan kembali hobi masa kecil, tetapi juga kesempatan bagi keluarga untuk membangun relasi dan melakukan kegiatan bersama.

Mengajak Peserta Memahami Sepak Bola dari Dalam Lapangan

Bagi Nuno, pendirian SSB Bapack Jogja bukan hanya tentang menyediakan tempat bermain bola. Ia juga ingin meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sepak bola, terutama mengenai aspek teknis dan proses latihan yang dijalani pemain.

Menurutnya, sudut pandang penonton tidak selalu sama dengan pengalaman orang yang terlibat langsung di lapangan. Karena itu, peserta perlu mendapat kesempatan untuk memahami permainan dari sisi pemain, bukan hanya sebagai penikmat pertandingan.

"Kesalahannya seperti kayak mereka berbicara sesuatu yang enggak mereka pahami. Karena point of view kita sebagai penonton sama pelaku di dalam lapangan secara teknis itu beda," jelasnya.

Melalui latihan rutin, peserta diharapkan dapat memahami sepak bola secara lebih menyeluruh. Metode latihan dirancang agar mereka mendapat kesempatan luas untuk menguasai bola, berinteraksi dengan sesama pemain, mencoba berbagai teknik, serta belajar dari kesalahan.

"Jadi kita siapkan bola yang banyak, kesempatan untuk menyentuh bola, kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain, kesempatan untuk mengembangkan dirilah, membuat kesalahan, dan memperbaiki kesalahannya," katanya.

Di Lapangan Sidokabul, semangat belajar itu terlihat dari para peserta yang terus mengikuti instruksi pelatih, meski napas mulai tersengal dan tubuh kelelahan. Bagi mereka, setiap sesi latihan menjadi kesempatan untuk kembali menikmati sepak bola, menjaga kesehatan, dan membangun pertemanan baru.

SSB Bapack Jogja pun membuka ruang bagi orang dewasa yang ingin kembali mengenal sepak bola, tanpa harus meninggalkan tanggung jawab pekerjaan maupun keluarga. Di tengah kesibukan sehari-hari, lapangan menjadi tempat untuk merawat hobi lama sekaligus memberi kesempatan kepada mimpi masa kecil untuk kembali hidup.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online