Bantuan Bedah Rumah Dipalak Oknum Desa

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jum'at, 18 Januari 2013 13:09 WIB
Bantuan Bedah Rumah Dipalak Oknum Desa

GUNUNGKIDUL -- “Jangan Bodohi Kami Orang Miskin”. Kata-kata itu terus terlontar dari mulut Kantiyo, 50, warga Dusun Tapansari, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, saat ditemui Harian Jogja.com di rumahnya, Kamis (17/1/2013) malam.

Tinggal di rumah yang terbuat dari gedek (bambu) dengan beralaskan sebagian besar tanah bersama istri dan keenam anaknya sejak puluhan tahun lalu tak terbayangkan rasa bahagianya ketika mendapat bantuan bedah rumah Rp6 juta dari pemerintah.

Meski tak seberapa, namun bagi Kantiyo uang tersebut bisa membangun tiang beton tiap pinggir rumah agar rumahnya kokoh, setidaknya aman dari terpaan angin. Selebihnya berharap masih bisa menyulap lantai tanah menjadi ubin, syukur-syukur kramik.

Sebab, bagi buruh tani ini membangun rumah merupakan impian belaka. Jangankan berpikir memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja dirasanya masih kurang, meski sudah dibantu istrinya membuat kerajinan tamping (topi bambu). Akhir November 2012 Kantiyo bisa bernafas lega setelah rumahnya terdata menjadi salah satu penerima bantuan bedah rumah program Kementrian Perumahan Rakyat gelombang kedua tahun 2013. Bantuan itu rencananya diterima Kantiyo akhir Januari ini.

Belum juga menerima uang, oknum pamong desa Watusigar berulah. Tak lama setelah terdaftar sebagai penerima bantuan, rumah Kantiyo didatangi oknum desa awal Desember 2012 yang meminta jatah atas bantuan tersebut.

Oknum itu meminta uang Rp100.000 dengan alasan untuk membuak rekening bank agar uangnya cair. Sambil menyerahkan kuitansi kosong, Kantoyi disuruh menandatangani kuitansi tersebut.

Kantiyo sempat kebingungan karena saat dia tidak miniliki uang sepeser pun. Karena takut bantuan tidak cair, dia pun mencari pinjaman kepada tetangganya. Setelah dapat pinjaman Kantiyo pun membubugkan cap jempol- karena tak bisa menulis- di atas cek kosong. “Saya manut saja, karena saya orang bodoh tidak tahu apa-apa” ucapnya.

Keesokannya, Kantiyo mengadukan peristiwa tersebut kepada kelompok yang juga mendapatkan bantuan bedah rumah. Ternyata sudah ada 15 orang yang juga dimintai uang oleh oknum desa.

Ada yang diminta Rp100.000, ada juga yang diminta Rp200 ribu. mereka menyerahkan karena takut uang bantuan tidak cair. Ada juga yang membuat perjanjian akan memberikan uang setelah cair bantuan. “Ya waktu itu daripada tidak dapat bantuan lebih baik menyerahkan uang Rp100.000,” kata Kantiyo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online