Kasus Kekerasan Hantam Pesantren, Santri Baru di Jawa Tengah Menyusut
Jumlah santri baru di Jateng turun hingga 20% pada 2025, NU akui dampak kasus kekerasan dan dorong reformasi pesantren.
GUNUNGKIDUL -- Pendidikan dasar speleologi yang dilakukan Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi) mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak karena tidak mengantongi izin pelaksanaan kegiatan yang jelas. Bahkan warga setempat yang rumahnya dijadikan lokasi Basecamp pun mengaku tidak mengetahui latar belakang kegiatan itu.
Ketika harianjogja.com mengunjungi rumah Harto Wiyono, 70 jejak lumpur masih tampak membekas di rumah pria tua itu. Rumah Harto memang dijadikan pusat komando penyelamatan dan lokasi peristirahatan sementara bagi peserta penelusuran gua yang berhasil keluar dari Seropan II.
Harto mengatakan, dia tidak mengetahui ada rombongan yang masuk ke Seropan. Tahu-tahu para peserta sudah kembali dan langsung menggantungkan peralatan penyusuran di depan rumahnya. “Saya juga tidak tahu, mereka tahu-tahu sudah ada disini,” katanya.
Anak Harto, Supriyanti mengatakan, dia melihat rombongan datang dengan menggunakan truk dan berhenti di depan rumah. Tetapi mereka tidak berkomunikasi dengan masyarakat. Dari puluhan orang yang datang, Supriyanti mengatakan hanya Dian Putri Permatasari yang sempat menyapa dan minta izin menumpang kamar kecil.
“Yang menyapa dan pamit hanya almarhumah mbak Dian, lainnya langsung jalan ke Seropan,” ujarnya.
Perilaku peserta yang tidak izin sempat ditegur salah seorang warga, Gunarto, 30. Warga Dusun Serpeng, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu ini sempat menanyakan izin rombongan yang akan menyusuri gua Seropan II.
Menurutnya, biasanya kelompok yang masuk memiliki surat izin kegiatan dari universitas masing-masing. “Saya tanya mereka tidak bisa menunjukkan, katanya ada di panitia. Ya sudah saya percaya saja,” katanya.
Permasalahan surat izin kegiatan itu rupanya diakui oleh Kapolsek Semanu AKP Sunu Pranowo. Sunu mengatakan, saat dikabari ada upaya evakuasi di gua vertikal, jajarannya langsung menuju ke gua Jomblang. Menurutnya, surat izin yang masuk ke kantor hanya kegiatan di gua Jomblang. “Saya sudah sampai sana tidak ada siapa-siapa,” katanya.
Bahkan Sunu mengatakan, setelah itu pihaknya langsung menyebar di beberapa lokasi gua di Semanu untuk menelusuri lokasi kejadian. “Saya cek Ngingrong tidak ada juga, akhirnya dapat informasi dari warga kalau kejadian di Seropan II,” katanya.
Ketika mengonfirmasi ke perangkat desa setempat, Sunu juga mengatakan perangkat desa juga tidak mengetahui ada kegiatan yang dilakukan di gua Seropan II.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumlah santri baru di Jateng turun hingga 20% pada 2025, NU akui dampak kasus kekerasan dan dorong reformasi pesantren.
Noel minta maaf kepada Prabowo setelah divonis 4,5 tahun penjara dalam kasus korupsi sertifikasi K3 dan gratifikasi Rp3,43 miliar.
KPK menduga perusahaan towing dipakai sebagai kedok menyamarkan dana hasil pemerasan KITAS dan KITAP yang menyeret pejabat Imigrasi.
Program BSPS DIY 2026 melonjak menjadi 3.000 unit rumah. Kementerian PKP memperbesar bantuan bedah rumah untuk mempercepat penanganan RTLH.
Pelantikan Kepala BGN Nanik S. Deyang dijadwalkan pekan depan. Istana meminta fokus membenahi Program Makan Bergizi Gratis.
Ketergantungan fiskal DIY masih tinggi. Pemda mengandalkan optimalisasi aset dan BUMD untuk meningkatkan PAD dan kemandirian fiskal.