Adu Banteng Dua Truk di Sragen, Tiga Orang Terluka
Dua truk adu banteng di Sragen Wetan, tiga awak luka dan dirawat di RSUD. Diduga akibat pengemudi kurang konsentrasi.
JOGJA—Dinas Kebudayaan DIY menerjunkan tim eskvasi dari Jurusan Arkeologi FIB UGM untuk meneliti keberadaan jagang (parit) benteng pertahanan Kraton. Hasil dari studi ini digunakan pijakan Pemerintah DIY untuk mengembalikan keberadaan jagang pada 2014 nanti.
Eskavasi ini dilakukan di barat persis Plengkung Nirbaya atau yang lebih dikenal dengan Plengkung Gading. Tim sudah bekerja sejak Senin(15/4). Mereka menggali tanah untuk dibuat jugangan sebanyak tiga buah di lokasi tanah kosong itu. Masing- masing jugangan berkisar 3x3 meter.
Ketika tim bekerja Rabu(17/4) kemarin, tim sudah mengeduk tanah sedalam dua meter. Menurut Peneliti Arkeologi Rully Andriardi dari Dinas Kebudayaan DIY yang menengok lokasi eskvasi, selama ini tidak ditemukan literatur resmi terkait keberadaan jagang tersebut.
Dalam tiga hari bekerja, menurut Rully, tim belum mendapatkan bukti kuat seperti artefak atau lain sebagainya yang dapat menunjukkan lebar dan kedalaman jagang. Rully mengatakan, acuan yang paling kerap jadi acuan selama ini adalah penggambaran jagang dalam tembang mijil.
Begini syair tembang itu: Di Mataram tinggilah bentengnya, melingkupi istana dan sekitarnya, gerbang lima hanya empat yang terbuka, parit keliling yang dalam sungguh jernih airnya, pagarnya rapi terjalin, pohon gayam berjajar sepanjang jalan.
Tembang mijil menggambarkan runtuhnya benteng kraton atau yang dikenal Geger Sepehi pada 1812 (HB I) di sisi timur karena kepungan pasukan Inggris. Rully menjelaskan, dulu terdapat lima Plengkung. Sekarang yang tersisa dua plengkung saja. Plengkung di sisi barat dihancurkan dan dibuat baru oleh Kraton agar bisa memuat kendaraan besar.
"Dari tembang itu juga terbaca jika jagang itu dulu airnya bersih dan sangat dalam. Airnya bersih karena mungkin langsung mengalir dari sungai," jelasnya.
Kepala Bidang Sejarah, Purbakala, dan Museum Dinas Kebudayaan DIY Nursatwika menambahkan, dari penuturan sejumlah warga, jagang itu letaknya masih dua meter dari batas luar benteng. Lalu jagang itu lebarnya juga mencapai dua meter. "Nah warga sekarang tinggalnya di atas jagang," katanya saat dihubungi, Kamis(18/4).
Nursatwika mengatakan eskavasi itu akan dilakukan sebulan. Setelahnya, akan dikonsultasikan ke Gubernur DIY bila kemudian pembangunan jagang menyita lahan warga yang terlanjur didirikan rumah. "Apa nanti harus ada ganti rugi, itu nanti jadi kebijakan Pak Gubernur," katanya.
Rencananya, jagang itu akan dibangun di lima titik pada kawasan benteng yang mengelilingi Kraton. Di tempat itu akan dibuat public space yang di dalamnya berisikan informasi mengenai sejarah benteng Kraton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua truk adu banteng di Sragen Wetan, tiga awak luka dan dirawat di RSUD. Diduga akibat pengemudi kurang konsentrasi.
Nadiem Makarim dituntut 18 tahun dalam kasus Chromebook. Kuasa hukum optimistis bebas, pleidoi dijadwalkan awal Juni.
PAD wisata Gunungkidul sudah 72% hingga Mei 2026. Pantai Drini dan Sepanjang jadi penyumbang terbesar, target diprediksi tercapai Juni.
Jemaah haji Indonesia Muhammad Firdaus Ahlan hilang di Makkah. PPIH lakukan pencarian intensif dan gandeng polisi Saudi.
Fabio Di Giannantonio juara MotoGP Catalunya 2026 usai balapan penuh drama. VR46 kian kuat, peluang juara dunia terbuka.
BI-Rate naik 5,25%. Ekonom nilai langkah tepat, rupiah diprediksi menguat ke Rp16.800 per dolar AS.