Waspada! Katarak Kini Serang Usia Muda, Kenali Penyebab dan Gejalanya
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Seiring makin menjamurnya sepeda motor dan mobil pribadi, nasib awak angkutan perdesaan (angkudes) pun semakin terjepit. Minimnya jumlah penumpang dan tiadanya perhatian dari pemerintah, seolah semakin mengubur keberadaan moda angkutan rakyat ini. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Joko Nugroho.
Eko Wijokongko, 76, menatap sinis sebuah bus Transjogja yang masuk ke Terminal Condongcatur, Depok, Sleman. Dia merasa bus yang kini berjaya di Jogja itu semakin memakan lahannya. Banyak orang memilih naik bus ber-AC itu ketimbang angkudes butut yang dioperasikannya.
Sopir angkudes jurusan Jogja – Kaliurang ini awalnya sempat ikut menolak keberadaan bus modern itu. Sebab, lahannya mulai dari Terminal Condongcatur menuju Mirota Kampus dan Ringroad Kentungan jadi berkurang.
“Dulu pelanggan saya yang ramai hanya dari Condongcatur, Mirota Kampus dan Ringroad Kentungan. Namun kini sudah sepi, sebab mulai ada bus yang lebih bagus,” kata Eko saat akan memulai perjalanannya menuju ke Kaliurang di Terminal Condongcatur, Senin (22/4).
Meski menolak, Eko tetap tak bisa berbuat banyak. Dia dan beberapa awak angkudes lain hanya bisa mengamini keberadaan bus berwarna hijau kuning itu beroperasi di jalur yang biasa dia lalui. Dengan segala kelebihannya, bus yang digagas pemerintah itu akhirnya “mengambil” penumpang yang biasanya
menumpang angkudesnya.
Terbersit keinginan Eko untuk mendadani angkudes yang biasa dioperasikan agar penumpang tak lari. Namun apa daya, Eko mengaku tidak memiliki dana untuk bisa merombak mobilnya menjadi jelita lagi.
“Saya berharap dapat subsidi dari pemerintah seperti Transjogja. Kalaupun bukan subsidi, kami juga mau diberi pinjaman dengan bunga rendah,” jelas Eko.
Eko mengaku, selama 31 tahun menjadi sopir angkudes, dia belum pernah sekalipun mendapatkan pinjaman dari pemerintah. Meski demikian, berbagai retribusi tetap harus dia bayarkan kepada pemerintah.
Eko menambahkan, selama ini dia kesulitan mengumpulkan uang untuk memperbaiki kendaraannya. “Kalau sekarang penumpang paling banyak hanya enam orang, terkadang tidak ada penumpang. Sehari rata-rata dapat Rp100.000, untuk beli solar Rp50.000 dan untuk setoran Rp40.000, sisanya untuk modal narik besok,” jelas Eko.
Tanpa ongkos cadangan, dia mengaku tidak akan bisa beroperasi jika penumpang sepi. Namun dengan pegangan Rp10.000 minimal, dia bisa membawa mobilnya mencari penumpang lagi.
“Harapan terbesar kami, pemerintah memberi bantuan dana untuk perbaikan agar mobil kami bisa tampak bagus lagi,” ujar Eko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Jadwal KA Bandara YIA menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dan sebaliknya pada 25 Mei 2026, lengkap dari pagi hingga malam hari.
Jadwal SIM keliling Jogja hari ini digelar di Qhomemart Ring Road Timur mulai pukul 08.30–13.00 WIB. Berikut syarat perpanjangan SIM.
Prakiraan cuaca Jogja hari ini, Sleman berpotensi hujan ringan, sementara wilayah DIY lainnya didominasi cuaca berawan.
Jadwal angkutan KSPN Malioboro menuju Obelix Sea View dan Pantai Drini Senin 25 Mei 2026 lengkap dengan tarif terbaru.
AS Roma memastikan tiket Liga Champions usai menang 2-0 atas Hellas Verona pada pekan terakhir Serie A 2025/2026.