Tim Gabungan Tangani Karhutla di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani
Meski api telah berhasil dikendalikan, petugas tetap melanjutkan proses mopping up atau penyisiran lokasi
GUNUNGKIUDUL-Sebanyak 10 dari 11 Kepala Keluarga (KK) di RT 03 dan 04 Dusun Kledok Ploso, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, yang harus direlokasi dari bahaya tanah longsor bingung. Tidak adanya lahan untuk pindah membuat mereka was-was saat turun hujan deras.
Kepala Dusun Kledok Ploso Sumardi mengatakan, pemerintah merekomendasikan 11 KK direlokasi karena rumahnya berada pada titik berbahaya.
"Namun, baru satu KK yang pindah karena memiliki lahan di lokasi yang aman" katanya, Kamis (27/6/2013)
Sementara yang lainnya, lanjut dia, masih kebingungan mencari lahan. Kondisi ekonomi mereka tidak memungkinkan untuk membangun rumah. Untuk itu, pihaknya telah menyampaikan permasalahan tersebut kepada pemerintah Desa Pengkol.
Adapun warga Kledok Ploso lainnya masih bekerja bakti bersama TNI- Polri membuat jalan menuju tenda pengungsian yang disediakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul. Tenda itu digunakan warga bila hujan deras turun.
"Karena memang tanah disini masih labil, jadi kalau hujan deras harus segera menuju tenda" ucap Sumardi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Meski api telah berhasil dikendalikan, petugas tetap melanjutkan proses mopping up atau penyisiran lokasi
Fitur Scheduled Call WhatsApp memungkinkan pengguna menjadwalkan panggilan suara dan video. Simak cara membuat jadwal dan mengundang kontak.
Ekonomi Indonesia dan DIY diperkirakan membaik pada 2027. Inovasi, efisiensi bisnis, dan dukungan bagi UMKM menjadi perhatian Bank BPD DIY.
Marc Marquez menegaskan tak akan memakai media untuk menyerang lawan. Ia mengakui eksposur media bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
“Perbankan masih menjadi tulang punggung untuk kegiatan intermediasi keuangan di DIY dan kami yakin bahwa pondasi industri jasa keuangan DIY tetap terjaga,"
Salam tiga jari yang digunakan dalam aksi BEM UI pada 28 Oktober 2026 memiliki sejarah sebagai simbol solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter.