Tsunami! Tsunami! Tsunami!

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Sabtu, 13 Juli 2013 09:30 WIB
Tsunami! Tsunami! Tsunami!

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Ketika mendengar sinyal tanda bahaya, setiap orang harus tanggap menghadapi. Seperti yang dilakukan warga Dusun Rejosari, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Suara sirine meraung-raung memecah keheningan senja di sebuah dusun bernama Rejosari, Kamis (11/7/2013) lalu. Tak lama kemudian, dua orang pemuda memacu motor trail-nya sambil berteriak-teriak sekeras mungkin. “Tsunami! Tsunami! Tsunami!.”

Sontak ratusan warga terdekat panik dan lari pontang-panting. Mereka kocar-kacir dan berhamburan ke jalanan. Jarak mereka hanya dua kilometer dari laut, wajar saja kalau mereka panik dan ingin menyelamatkan diri. Ada yang berlari, mengendarai motor dan ikut truk evakuasi.

Teriakan dan tangisan terdengar di sana-sini. Tua, muda, pira, wanita, semua tumpah ruah ke jalanan. Masing-masing berupaya menyelamatkan diri dan sanak keluarga. Ada yang menggandeng neneknya, ada yag membopong anaknya, ada yang menggiring kambing bahkan menggendongnya, ada pula yang membawa kasur.

Pakaian di badan pun seadanya, mereka tak sempat merapikan diri di situasi genting yang menyangkut hidup mati itu. Tak peduli apakah hanya memakai singlet, tanpa alas kaki, maupun rambut acak-acakan. Nyawa lebih penting. Mereka berlari ke titik evakuasi yang sudah siap, yakni di Lapangan Ngegong atau Lapangan Rejosari.

Sambil berlindung di bawah tenda, warga menjerit histeris dan menangis. Mereka mencari sanak keluarga yang tercecer. Dua ambulans dari tim Seacrh and Rescue (SAR) Pantai Baron datang dengan membawa korban tsunami. Dengan sigap mereka membawa korban-korban ke tenda darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Suasana sore yang tadinya tenang, secara drastis berubah menjadi suasana yang penuh kekalutan dan ketakutan. Di tengah suasana genting itu, ada satu oknum warga yang mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Dia melarikan seekor kambing milik warga. Tindakannya itu memicu kemarahan warga yang kemudian berlarian memburunya. Pencuri itu pun dihakimi warga sebelum diamankan polisi.

Ada yang aneh dalam evakuasi tersebut. Selagi yang lain menangis, menjerit, lari tunggang langgang, beberapa warga justru terlihat senang, tersenyum dan tertawa lebar. Bahkan, beberapa anak muda mengabadikan momen tersebut dalam jepretan kamera. Hilangkah rasa kemanusiaan mereka? Atau tak takutkah mereka dengan bencana tsunami yang mengancam?

“Ini hanya simulasi evakuasi kalau terjadi bencana tsunami. Sebagai desa siaga, kami ingin warga cepat tanggap kalau ada bencana,” tutur Kepala Dusun Rejosari, Subani. Rupanya segala hiruk-pikuk hanya simulasi.

Dalam simulasi tersebut, sekiar 500-an warga dikerahkan. Simulasi ini dilakukan agar warga siap setiap saat menghadapi tsunami dan tahu harus kemana. Sebagai warga pesisir, mereka dituntut untuk tanggap bencana.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis