Trans Jateng Buka Koridor Gelangmanggung, Operasi Mulai 2027
Pemprov Jateng menyiapkan koridor baru Trans Jateng Gelangmanggung pada 2027 yang menghubungkan Temanggung, Kota Magelang, dan Kabupaten Magelang.
Harianjogja.com, JOGJA - Permintaan maaf jamak dilakukan dengan sebuah ucapan. Hal berbeda dilakukan pelukis Yaksa Agus.
Pelukis jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) angkatan 1996 ini melakukannya dengan menggelar pameran tunggal bertajuk 0 di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis yang berlangsung dari 17-31 Agustus 2013.
Yaksa Agus merasa sudah banyak makan asam garam dalam berorganisasi terutama di dunia seni rupa. Sejak 1991, tatkala masih duduk di bangku Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Yaksa kerap diminta menjadi humas maupun koordinator pameran.
“Sudah tidak bisa dihitung dengan jari berapa kali saya terlibat dalam organisasi seni rupa,” katanya kepada Harian Jogja saat ditemui di Tembi Rumah Budaya, Senin (19/8/2013).
Menurutnya keterlibatan dia dalam organiasi seni rupa ibarat pepatah setali tiga uang. Ia banyak mendapatkan pengalaman berharga dalam mengkodinir event seni rupa namun disatu sisi hal itu terkadang membuatnya merasa berdosa. “Sulitnya ketika kita dituntut netral. Apalagi kalau teman – teman seni rupa banyak. Pernah suatu kali saya tidak ajak rekan untuk pameran terus saya dicuekin,” ujarnya.
Merasa sudah lama merasakan manis pahitnya organisasi seni rupa, Yaksa pun memutuskan untuk tidak terlibat sebagai pengurus organisasi seni rupa apapun dan lebih memilih menjadi anggota saja. Penegasan itu diungkapkan Yaksa lewat 21 karya lukisnya.
Karya itu terdiri dari 11 lukisan dengan media aklirik di atas kanvas, sementara sisanya menggunakan media kartu pos dan amplop yang direspons dengan beragam objek gambar. Sesuai tema yang diusung, karya yang disuguhkan itu secara eksplisit banyak mengusung pesan maaf.
Pemaknaan Yaksa terhadap maaf tidak dimaknai hanya dari persoalan pribadinya saja namun dari sudut pandang lain. Ia bahkan memasukkan peristiwa yang pernah hangat menghiasi pemberitaan televisi maupun media cetak.
Misalnya saja dalam karya berjudul Teh Pagi #1 dan #2. Dalam kanvas yang berukuran masing-masing sekitar 140 x 100 Centimeter itu diperlihatkan sosok pria berpeci mengenakan sarung dan berpeci tampak disiram teh dibagian wajah saat asyik duduk di sebuah kursi goyang.
Persis di samping kanan lukisan itu muncul pemandangan serupa. Hanya, bedanya pria itu lebih memilih untuk menyiramkan sendiri air teh itu ke mukanya sambil duduk membelakangi sebuah kursi.
Telisik punya telisik, karya tersebut merupakan bagian dari respons Yaksa Agus terhadap polemik antara Munarman, juru bicara FPI yang pernah menyiram wajah sosiolog Thamrin Tamagola dengan air teh saat terlibat dialog talkshow di salah satu televisi nasional.
“Ini [penyiraman teh] sebenarnya tidak terjadi jika kedua-duanya bisa saling menekan ego saat berdialog ,” katanya.
Menurut Agus lukisan itu ia pamerkan karena dinilai cocok merepresentasikan tema maaf yang ia usung. “Pada akhirnya si Thamrin seolah memaafkan tindakan Munarman dengan tidak melaporkannya kepada polisi,” tambahnya.
Ada hal menarik. Dari materi karya yang dipamerkan Yaksa Agus. Hampir sebagian besar karyanya mengangkat pernak pernik surat menyurat terutama perangko dan amplop.
Bahkan dalam pameran ini, Yaksa merespons puluhan kartu pos dengan berbagai gambar dan pemandangan. Kartu pos ini sebelumnya pernah digunakannya untuk mengirimkan ucapan kepada istrinya tatkala mengikuti residensi di Selangor Malaysia pada 2004-2007 silam.
Yaksa juga merespons sejumlah amplop coklat yang tidak lain adalah kiriman ucapan selamat tahun baru atau ulang tahun yang didapatkan dari rekan sesama seniman yang berada di luar negeri seperti dari Croatia, Amerika Serikat dan masih banyak lagi.
Yaksa mengaku langkahnya untuk merespons amplop dan kartu pos karena media ini sangat tepat untuk menggambarkan permintaan maaf. Menurut dia menyampaikan maaf melalui kartu pos lebih mengena dan dalam ketimbang menggunakan piranti gadget seperti yang dilakukan banyak orang selama ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemprov Jateng menyiapkan koridor baru Trans Jateng Gelangmanggung pada 2027 yang menghubungkan Temanggung, Kota Magelang, dan Kabupaten Magelang.
Fête de la Musique 2026 digelar di Jogja, hadirkan musisi emerging dan perkuat kolaborasi budaya Indonesia–Prancis.
UGM teliti fenomena api di Seyegan Sleman, analisis georadar dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan gas dalam retakan tanah.
Kejagung geledah kasus korupsi MBG di Jakarta dan Bandung, 4 tersangka termasuk pejabat BGN, bukti elektronik disita.
Pemerintah bangun 100 Sekolah Nasional Terintegrasi 2026 untuk pemerataan pendidikan, termasuk di IKN dan berbagai daerah.
DPP PKB menetapkan pengurus DPC PKB DIY 2026-2031. Seluruh posisi sekretaris di lima kabupaten/kota diisi kader perempuan.