Pajak Kendaraan Jateng Nunggak Rp2,4 Triliun, Ini Datanya
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Harianjogja.com, JOGJA—Ratusan karya seni dan budaya hasil kreasi dari sejumlah seniman tradisi DIY dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jl Sriwedani.
Karya yang dipamerkan bermacam-macam. Di antaranya topeng kertas, wayang sodo, wayang beber, hingga lukisan dengan menggunakan media batok kelapa.
Sri Eka Kusumaningayu, ketua panitia pameran mengatakan ini adalah pertama kalinya TBY memberikan ruang bagi seniman tradisi untuk berkreasi. Pasalnya, selama ini TBY cenderung menampilkan karya seni rupa yang mengikuti kemauan pasar.
Menurutnya pameran ini menjadi salah satu upaya bagi TBY untuk mengapresiasi karya tradisi sekaligus memberikan pengetahuan kepada pengunjung bahwa karya tradisi masih eksis di zaman modern ini.
"Karya yang dipamerkan ini luput dari perhatian publik padahal mempunyai peran penting dalam menopang keberlangsungan peristiwa budaya di DIY," katanya, Kamis (22/8/2013).
Pameran karya seni dan budaya menampilkan ratusan karya dari 20 seniman tradisi berbagai wilayah DIY. Ssebagian besar Beberapa diantaranya merupakan perupa tradisi yang cukup dikenal masyarakat. Seperti Subandi (pelukis kaca), Sajiyo (wayang kulit), Abdul Wahab (topeng kertas). Para peserta sebagian besar sudah sepuh karena berusia diatas enam puluh tahun.
Dijelaskan Sri jumlah yang dipamerkan beragam. Ada seniman yang mengirimkan 20 karya hingga 30an karena sebagian besar mengusung satu cerita utuh.
Salah satu karya yang disuguhkan dalam pameran itu adalah wayangsada. Wayang ini merupakan hasil kreasi dalang bernama Marsono asal Desa Wisata Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul. Wayang ini cukup unik karena menggunakan bahan dasar lidi.
Perkembangan wayangsada pun kurang populer jika dibanding wayang jenis lainnya yang berkembang di tanah Jawa karena baru berkembang sejak tiga tahun belakangan ini. "Yang menciptakan sekaligus memainkan baru ayah saya," terang Sutrisno, putra Marsono kepada Harian Jogja.
Wayangsada, lanjut Sutrisno dibuat berdasar keprihatinan ayahnya yang melihat bahwa permainan anak zaman sekarang ini sudah sangat jauh dari nilai-nilai budaya Jawa. "Untuk itu ayah saya bikin dari lidi supaya anak-anak tertarik memainkannya," bebernya.
Sutrisno menambahkan wayangsada mengangkat tokoh-tokoh dalam cerita Ramayana seperti Pandawa Lima, Rama dan Sinta. Selebihnya dalam tokoh cerita sejarah seperti munculnya gua Pindul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
SDHI resmi mengelola Bandara Internasional Dhoho Kediri secara mandiri setelah memperoleh Sertifikat Standar BUBU dari Kementerian Perhubungan.
Disdikpora Bantul mengandalkan program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi.
Persis Solo kalah 0-2 dari Kendal Tornado FC di Stadion Manahan. Patrick Cruz dan Ousmane Maiket mencetak gol untuk tim tamu.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyoroti proporsi mahasiswa STEM Indonesia yang masih 28 persen dan pentingnya penguatan sains fundamental.
Hotspot karhutla Indonesia naik menjadi 1.271 titik. Kalteng mencatat 355 titik dan Kalbar 246 titik hingga 2 Oktober 2026.