Sembuh atau Berdamai? Cara Baru Memahami Penyakit Kronik
Makna sehat kini bergeser. Tak selalu sembuh total, penyakit kronik menuntut adaptasi dan cara hidup baru.
Harianjogja.com, JOGJA- Pergelaran tari klasik Jawa kerap dilangsungkan di gedung pertunjukan. Apa jadinya, bila tari itu dimainkan di tepi jalan sehingga menjadi tontonan sejumlah pengendara kendaraan, seperti yang ditunjukkan Kina Dance saat tampil di Jalan Mangkubumi Jogja, Minggu (22/9/2013).
Mengenakan blangkon lengkap dengan jarit, sebanyak 10 penari dari Kina Dance tampil selama 20 menit, membawakan tari klasik Jawa Jogja, jenis Gagah. Tari ini merupakan termasuk gerakan dasar yang mengusung pesan maskulinitas dari diri seorang raja.
“Tari ini bermula dari seorang raja yang harus bersolek tapi bersoleknya secara gagah tidak seperti
kaum wanita,” kata koreografer Kina Dance, Agus Sukina, saat ditemui Harian Jogja di Jalan Mangkubumi, Minggu (22/9/2013).
Tari ini pada umumnya dimainkan di gedung pertunjukan atau dalam lingkungan kraton. Kendati baru pertama kali tampil di jalanan, penari tidak grogi. Mereka tidak menggubris perhatian pengguna lalu lintas yang tertuju pada setiap lekuk tubuh yang mereka peragakan.
“Pentas ini sekaligus untuk meresapi kembali esensi dari joget Mataram, yakni greget, sawiji, sengguh dan ora mingkuh, yang intinya selalu berkonsentrasi dan tidak terpengaruh gangguan dari luar,” beber Agus.
Aksi Kina Dance merupakan bagian dari perhelatan Jogja Internasional Street Performance (JISP) yang pada tahun ini mengusung konsep tampil di jalanan, sepanjang Jalan Mangkubumi sampai Malioboro.
Menurut Agus, tantangan panitia JISP dengan mengajak peserta tampil di jalanan secara tidak langsung menjadi sebuah kampanye bagi Jogja dalam mendapatkan predikat sebagai kota tari.
Namun, di satu sisi, ia melihat kalau gedung pertunjukan yang ada di Jogja masih minim padahal komunitas tari di Jogja menjamur. “Pemerintah tidak usah bingung-bingung mengelola dana keistimewaan [Danais]. Bangun saja gedung pertunjukan yang banyak,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Makna sehat kini bergeser. Tak selalu sembuh total, penyakit kronik menuntut adaptasi dan cara hidup baru.
Panglima TNI Agus Subiyanto meminta alumni SMA Taruna Nusantara menjadi generasi adaptif, berkarakter, dan berintegritas menuju Indonesia Emas 2045.
Pakar UMY mengungkap blackout Sumatra bukan sekadar gangguan transmisi, tetapi menunjukkan lemahnya ketahanan sistem kelistrikan dan proteksi jaringan.
SpaceX meluncurkan 29 satelit Starlink baru sehingga total satelit aktif melampaui 10.400 unit untuk memperluas layanan internet global.
Ombudsman RI mendorong sistem terpadu antarkementerian untuk pengawasan TKA dan pencegahan TPPO agar pengawasan lebih efektif.
Tribute to Erros Djarot di Java Jazz Festival 2026 menghadirkan musisi lintas generasi yang membawakan karya-karya legendaris sang maestro.