Rinding Gumbeng, Musik Tradisional Gunungkidul yang Sulit Mencari Regenerasi

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jum'at, 04 Oktober 2013 13:01 WIB
Rinding Gumbeng, Musik Tradisional Gunungkidul yang Sulit Mencari Regenerasi

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Gunungkidul memiliki kesenian tertua. Namun, maknanya kian pudar seiring perkembangan zaman.

Suaranya berbeda dengan petikan gitar, gesekan biola maupun pukulan drum atau tiupan seruling. Getaran suaranya pun berbeda dengan denting gamelan.

Sembilan pria yang memainkan alat musik yang terbuat dari bambu. Ada yang berbentuk seperti angklung dan bambu panjang. Suaranya selaras sehingga menghasilkan alunan musik yang unik nan syahdu.

Ada dua orang yang menarik perhatian lantaran alat musik dari bambu yang dimainkan berbentuk pipih dengan sedikit ditarik-tarik dan ditiup. Warga menyebutnya rinding gumbeng. Rupanya, makna rinding gumbeng tak hanya sebatas alat musik saja.

Salah satu penduduk yang sudah berusia 70-an tahun, Rejo Warsito, bertutur rinding gumbeng merupakan sebuah ritual selama panen padi. Tujuannya untuk memboyong Dewi Sri, yang merupakan dewi padi, ke rumah petani agar mendapatkan kemakmuran.

“Dahulu setelah padi dipetik dengan ani-ani, laki-laki memikul padi dan perempuan memanggul padi. Selama perjalanan pulang mereka diiringi suara rinding dengan rindingan itu,” kenang Rejo.

Setibanya di rumah, padi-padi kemudian ditumpuk di lantai dan ditali. Usai ditali, para petani pun membunyikan rinding gumbeng lagi sebelum padi-padi itu dimasukkan dalam lumbung paceklik atau gedungan.

Padi-padi tersebut menjadi tadah pangan sehingga ayem tentrem. “Sekarang sudah tidak ada lagi upacara seperti itu,” tutur dia.

Pria tua lainnya, Supatno, menambahkan makna rinding gumbeng sekarang hanya sebatas seni tradisional yang merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan. Rinding gumbeng hanya sebuah seni pertunjukan. Itupun sudah kesulitan untuk mencari regenerasi.

“Rinding gumbeng memang sudah tidak digunakan untuk panen tapi kami berharap kesenian tua ini akan lestari,” tutur dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis