RS PKU Muhammadiyah Jogja Gelar Simulasi Kebakaran, Ini Tujuannya
RS PKU Muhammadiyah Jogja menggelar simulasi penanganan krisis kesehatan dampak kebakaran. Latihan melibatkan Damkar, BPBD DIY, dan MDMC.
Jibi/Harian Jogja/Gigih M. Hanafi Pasien lanjut usia (lansia) saat diperiksa oleh dokter dari Persatuan Dokter Mata Indonesia (perdami) sebelum pelaksanaan operasi katarak gratis untuk memperingati HUT Bhayangkara bekerjasama dengan PT. Sidomuncul dan Perdami Jogja di RS. Bhayangkara, Kalasan, Sleman, Selasa (26/6). Setiap tahun penderita penyaklit katarak mengalami peningkatan sebanyak 0,1% dari seluruh penduduk di Indonesia.
Harianjogja.com, SLEMAN–Pasien penyakit katarak termasuk kasus yang tinggi diderita masyarakat Indonesia. Di DIY saja, setiap tahun ada sekitar 3.500 orang penderita katarak baru atau sekitar 0,1% dari total penduduk DIY sekitar 3,3 juta jiwa.
Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Eva Revana, mengatakan, jumlah penderita karatak di Indonesia mencapai 1,6% dari jumlah penduduk. Jumlah tersebut berdasarkan data 1999 yang hingga kini masih bertahan.
"Angka ini jelas cukup tinggi karena penanganannya pun tidak berkelanjutan. Kami bertekad mengurangi angka penderita katarak khususnya di DIY,” ujar Eva di sela kegiatan operasi gratis katarak di RSA, Selasa (17/12/2013).
Eva mengatakan, selain faktor pengetahuan terkait katarak yang rendah, faktar ekonomi menjadi alasan utama penderita katarak membiarkan penyakit mata tersebut.
Padahal, bila dibiarkan penderita akan mengalami kebutaan. Akibatnya, jumlah penderita katarak terus tinggi setiap tahunnya. “Fenomena ini banyak ditemukan di kalangan masyarakat pedesaan atau pinggiran. Kebanyakan belum mengerti jika kebutaan akibat katarak bisa disembuhkan total," terang Eva.
Untuk menurunkan angka deadlock katarak, pihaknya sudah tiga kali melakukan kegiatan operasi katarak gratis. Sejak 2012, RSA UGM melakukan operasi katarak gratis terhadap sekitar 160 penderita katarak.
Harapannya, operasi gratis tersebut bisa membantu masyarakat untuk menyembuhkan penderita katarak.
"Karena banyak berada di daerah pinggiran dan pedesaan, kami menggunakan cara ‘jemput bola’. Selain melakukan sosialisasi, kami juga mengooperasi indera penglihatan agar dapat melihat lagi," kata Eva.
Pihaknya berharap agar masyarakat tidak sungkan mengoperasi katarak ke rumah sakit. Sebab, proses operasi bisa dijamin dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
"Memang jaminan kesehatan belum menyentuh seluruh penduduk miskin. Makanya, operasi katarak dianggap mahal. Untuk mandiri, biaya paket operasi ini membutuhkan dana Rp2,5juta,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RS PKU Muhammadiyah Jogja menggelar simulasi penanganan krisis kesehatan dampak kebakaran. Latihan melibatkan Damkar, BPBD DIY, dan MDMC.
Menkomdigi Meutya Hafid menerbitkan SE Nomor 4/2026. Operator seluler wajib melindungi sisa kuota dan memberi pilihan layanan kepada pelanggan
Banjir bandang Nepal menewaskan 616 orang, 2.301 terluka dan 2.500 masih hilang. Tim penyelamat terus mencari korban di perbatasan China
Labuan Bajo ditargetkan pulih dan makin tangguh pascagempa M7,7 melalui penguatan keselamatan, manajemen risiko, dan destinasi wisata darat
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Festival Mustika Rasa resmi dibuka di Alun-Alun Selatan Jogja, Sabtu (29/8/2026). Festival kuliner yang melibatkan ratusan UMKM lokal ini membawa pesan tentang