EMPAT BOCAH TENGGELAM : Ngatidjo Kehilangan Dua Anak Sekaligus

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Selasa, 24 Desember 2013 09:50 WIB
EMPAT BOCAH TENGGELAM : Ngatidjo Kehilangan Dua Anak Sekaligus

Harianjogja.com, BANTUL- Kenyataan pahit harus ditanggung Ngatidjo, 43. Dalam waktu bersamaan buruh tani di Dusun Beji Kulon, Sendangsari, Pajangan Bantul itu menemui dua anaknya telah tak bernyawa setelahhttp://www.harianjogja.com/baca/2013/12/23/cari-duwet-4-anak-tenggelam-di-kolam-bekas-galian-batu-476719" target="_blank"> tenggelam di lubang bekas galian tambang batu.

Ngatidjo tak dapat menutupi perasaan sedih dan terpukul karena kehilangan dua anak yang ia pelihara sejak lahir. Kendati pria tersebut sesekali menyunggingkan senyum saat media ini mewawancarainya Senin (23/12/2013) siang.

Sembari menunggu jenazah putrinya Cahya Dwi Purwandari,12 serta putranya Heri Prasetyo, 9, dimakamkan, Ngatidjo mengenang dua bocah malang itu.

Bapak empat anak itu tak menyangka, Cahya dan Heri akan pergi secepat itu. Cahya yang duduk di bangku kelas 6 SD merupakan anak ke duanya. Sedangkan Heri yang baru duduk di kelas 3 SD adalah anak ke tiga.

Kala itu Minggu (22/12/2013) pagi, terakhir kali Ngatidjo melihat ke dua anaknya. Cahya dan Heri bersama dua korban lainnya yaitu Ismantoro, 9 serta Idris Triadmojo, 10 tengah bermain gambar di rumah.

Ngatidjo yang tak melihat keanehan mereka akan celaka, meminta pamit hendak menghadiri undangan pernikahan tetangganya.

Namun hingga saat pulang ke rumah sekitar pukul 12 siang, Cahya dan Heri tak kunjung pulang untuk makan siang. Ia mulai khawatir. Bersama warga ia mencari keberadaan empat bocah tersebut. Hingga akhirnya Senin (22/12/2013) dinihari, ke empat anak itu ditemukan tenggelam di sebuah lubang bekas galian batu berisi air sedalam 1,5 meter.

Sebelum anaknya meninggal, Ngatidjo mengaku punya firasat tak baik. "Rabu [18/12] lalu saya mimpi menjadi penganten tujuh hari tujuh malam," ungkapnya. Mimpi menjadi pengantin selama ini dipercayai warga sebagai pertanda buruk.

Firasat Ngatidjo terbukti. Empat hari setelahnya ia ditinggal pergi ke dua anaknya. Ia mengaku merasa kehilangan. Selama ini putrinya Cahya dikenal rajin beribadah dan cenderung pendiam ketimbang adiknya Heri.

"Cahya itu rajin sekali mengaji, setiap hari enggak perlu disuruh cepat kalau mengaji. Kalau Heri agak bawel," tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online