Kemenhut Pastikan Penanganan Kebakaran TNBTS Berjalan Terpadu
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
Ilustrasi kloset untuk jamban keluarga sehat. (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Sekitar 30 persen warga Gunungkidul masih buang air besar (BAB) sembarangan karena belum memiliki jamban sehat.
Hal tersebut memicu penularan penyakit diare yang sebagain besar diakibatkan karena pencemaran lingkungan.
Data di Dinas Kesehatan Gunungkidul, baru 70% warga yang sudah memiliki jamban sehat. “Sekitar 30 persennya memiliki jamban model cemplung, ada juga beberapa yang tidak memiliki jamban sama sekali sehingga harus BAB di kebun dan di sungai,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty di kantornya, Senin (23/12/2013).
Menurut Dewi, sebagian warga memang belum ada yang memahami pentingnya lingkungan yang bersih dan perilaku hidup sehat. Perilaku BAB sembarang tidak hanya didominasi warga pesisir Gunungkidul namun merata hampir di setiap kecamatan. Padahal lebih dari 90% penularan penyakit diare karena lingkungan yang tidak sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
Jadwal KA Bandara YIA Jumat 9 Oktober 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 9 Oktober 2026 tersedia dari Stasiun Palur mulai pukul 05.00 WIB. Cek jadwal lengkap tiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 9 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Dokter mikrobiologi klinik Andrew Adhytia Lieputra mengingatkan penggunaan masker, vaksinasi, dan kebersihan tangan bantu cegah influenza tipe A.
BPS DIY mencatat 40% penduduk dengan pengeluaran terendah menyumbang 16,91% konsumsi per Maret 2026. Fenomena downgrading turut disoroti.