PAD Gunungkidul Ditarget Naik Rp25,57 Miliar di APBD Perubahan
PAD Gunungkidul dalam APBD Perubahan 2026 naik Rp25,57 miliar menjadi Rp385,966 miliar di tengah pengurangan transfer pusat.
Harianjogja.com, JOGJA- Di mata para abdi dalem materi bukanlah sesuatu yang mutlak. Bisa mengabdi terhadap Puro Pakualaman adalah kebanggaan. Bagi mereka pengabdian itu tidak selalu harus dinilai dengan uang.
“Kalau dilihat dari sisi materi, uang Rp5.000 tiap bulan itu tidak ada artinya. Tapi, mengabdi ke Pakualaman adalah kebanggan yang mendatangkan ketenteraman batin,” jelas Wakidi, salah seorang abdi dalem di Pakualaman yang ditemui di sela-sela perayaan ulang tahun ke-78 KGPAA Paku Alam IX, Kamis (9/1/2014).
Wakidi mengaku dia banyak belajar selama mengabdi di Puro Pakualaman. Mulai dari bisa menahan diri, dan lebih menghargai tentang hidup.
“Hidup tidak hanya sekadar mencari materi tapi lebih pada mencari kebahagiaan dan ketenteraman jiwa,” tambahnya.
Saat ditemui, dia mengaku tidak mengira jika ia termasuk salah satu dari puluhan orang yang mendapatkan anugerah gelar kepangakatan di perayaan ulang tahun itu.
“Saya tidak tahu, dan baru tahu pas dibacakan tadi. Untungnya, saya termasuk dalam prajurit yang bertugas, kalau tidak mungkin kenaikan pangkat ini tidak akan saya ketahui,” akunya sambil tersenyum.
Dia bercerita, pertama kali mengabdi pada pertengahan 2009 lalu. Panggilan menjadi abdi dalem ini terinspirasi
leluhurnya yang pernah mengabdi di Kraton. Hanya saja, ia tidak tahu pasti kapan pengabdian itu berlangsung.
“Dan inilah yang menguatkan dan membulatkan tekad saya untuk mengabdi di sini,” ungkap ayah empat anak itu.
Suka duka sebagai abdi dalem sudah dilalui pria kelahiran Bantul, 56 tahun lalu itu. Pernah suatu ketika, pas paringan dalem (penerimaan gaji tiap bulan) ia jatuh sakit, padahal untuk menerima gaji itu tidak bisa
diwakilkan, sehingga ia melewatkan gaji bulan itu.
“Jumlahnya tidak banyak, hanya Rp5.000 tiap bulan dan diberikan tiap Sabtu Pahing,” akunya.
Menurut pria yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat kerajinan tangan itu, inti dari pengabdian yang dicari bukan materi atau kekayaan, tapi lebih pada pencarian ketenangan batin. Karena, menurut dia, ketenangan batin itu lebih utama dan tidak bisa digantikan dengan materi berapa pun nilainya.
“Di sini saya belajar nrimo, tidak serakah. Untuk kebutuhan hidup tiap hari saya sudah menyerahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Toh kebutuhan tiap hari juga bisa tercukupi,” tambahnya.
Dia sekarang berpangkat Jajar dengan sebutan Jajar Mas Wirosediyono. “Mungkin bagi kebanyakan orang pangkat ini tidak ada artinya, tapi bagi kami para abdi dalem sangatlah penting,” ungkapnya.
Dengan pangkat baru ini, Wakidi bisa mendapatkan honor abdi dalem di tahap selanjutnya. “Karena yang kemarin saya belum dapat,” imbuhnya sambil terkekeh.
Dia menambahkan, tiap bulan minimal tiga kali masuk sebagai abdi dalem, yakni tiap ada arisan, Sabtu Pahing, dan malam Kamis sebagai penjaga pintu gerbang Puro Pakualaman.
“Itu masih bisa bertambah, tergantung dengan kegiatan yang diselenggarakan. Saya bahagia bisa memiliki andil dalam setiap kegiatan di sini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD Gunungkidul dalam APBD Perubahan 2026 naik Rp25,57 miliar menjadi Rp385,966 miliar di tengah pengurangan transfer pusat.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 10 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif tiket Rp8.000.
Pentagon menyiapkan opsi operasi militer tiga hari terhadap Iran. Trump menyebut negosiasi masih berlangsung, sementara Teheran mengajukan proposal perdamaian.
Google Cloud memperkenalkan agen AI Gemini yang bisa membantu mengolah informasi, membuat konten, coding, hingga mengelola pekerjaan bisnis.
DPRD Kota Jogja mendorong WJNC digelar rutin setiap 7 Oktober agar menarik wisatawan mancanegara dan meningkatkan lama tinggal.
Suzuki membukukan penjualan ritel 54.179 unit hingga September 2026. New Carry menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 55%.