Wonogiri Putar Haluan Ekonomi, Pariwisata dan Ekraf Jadi Andalan Baru
Wonogiri mulai tinggalkan ketergantungan sektor pertanian, kini fokus kembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dongkrak ekonomi daerah.
Harianjogja.com, SLEMAN - Peneliti Eliminate Dengue Project (EDP) Bekti Andari mengakui, adanya sebagian warga yang menolak terkait proyek Aedes Aegypti dengan Wolbachia.
Namun, jumlahnya hanya sekitar 5% dari jumlah warga yang menerima. Di Sleman, proyek yang dilaksanakan sejak pertengahan 2010 tersebut dilaksanakan di Dusun Kronggahan 1 dan Kronggahan 2, Desa Trihanggo, Karang Tengah dan Ponowaren, Desa Nogotirto. “Yang menolak hanya 5% dari jumlah penduduk di sana,” ujarnya, Rabu (22/1/2014)
Meski begitu, EDP menghargai pandangan sebagian kecil warga yang menyatakan ketidaksetujuannya untuk terlibat dalam penelitian tersebut. “Memang ada sejumlah masukan dan pertanyaan dari masyarakat terkait penelitian ini. Kami secara proaktif menanggapi segala masukan dari masyarakat,” ujarnya.
Sejak awal penelitian, lembaganya kata Bekti, selalu melibatkan masyarakat. Pelibatan dilakukan secara intensif selama lebih dari dua tahun terakhir. Kalau pun ada warga yang tidak mau terlibat dalam proses penelitian, pihaknya juga tidak melibatkan.
“Sebagian besar masyarakat justru mendukung [penelitian itu]. Kami mendapat dukungan dan izin dari pemerintah baik tingkat kabupaten maupun pusat, termasuk dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X,” kata Bekti.
Menurutnya, berdasarkan penelitian laboratorium menunjukan ada penurunan potensi DBD bila menerapkan metode tersebut. “Yang penting, teknologi yang diujicobakan di sejumlah negara ini, aman bagi manusia, hewan dan lingkungan. Kami yakin tidak akan ada gangguan atau ketidaknyamanan dari pelepasan nyamuk tersebut,” jelas Bekti.
Untuk menjembatani sejumlah warga yang menolak, pihaknya akan kembali merangkul warga. Rencananya, EDP akan mengundang kembali masyarakat mereka untuk berdialog, pada Minggu (26/1/2014) di Balaidesa Nogotirto.
Menurut EDP, bakteri Wolbachia mampu mengendalikan replikasi virus dengue dalam tubuh vektor Aedes aegypti. Adapun Wolbachia merupakan bakteri alami yang mampu menghambat virus dengue di tubuh nyamuk Aedes aegypti sehingga virus dengue tidak bisa ditularkan ke manusia.
Wolbachia terdapat secara alami pada 70% tubuh serangga di bumi, termasuk berbagai jenis serangga yang biasa menggigit manusia. Bakteri itu hanya hidup dalam sel serangga dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui telur. Beberapa serangga ber-Wolbachia seperti kutu beras, kupu-kupu, laba-laba dan lalat buah.
Untuk memproduksi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia, EDP melakukan metode kawin silang. Di mana telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dengan nyamuk Aedes aegypti lokal. Dengan metode tersebut, didapatkan keturunan 100% nyamuk Aedes aegypti Wolbachia Jogja.
Satu nyamuk Aedes Aegypti tanpa Wolbachia bisa menghasilkan sebanyak 20.000 copy virus demam berdarah dengue (DBD), sedangkan dengan Wolbachia hanya menghasilkan 500 copy virus dengue. Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mampu menghambat penularan virus DBD ke manusia dengan cara menggigit orang yang tertular dengue.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wonogiri mulai tinggalkan ketergantungan sektor pertanian, kini fokus kembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dongkrak ekonomi daerah.
Perbankan DIY tetap stabil Maret 2026. Aset dan DPK tumbuh, tapi kredit justru turun 1,48%.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo Jumat 22 Mei 2026. Berangkat hampir tiap jam dengan tarif Rp8.000, praktis dan hemat.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.