Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY menyatakan wilayah Jawa termasuk DIY masih akan sering digoncang gempa susulan maksimal dua sampai tiga pekan mendatang.
Gempa susulan akibat gempa tektonik yang berpusat di 108 kilometer barat daya Kebumen Sabtu siang (25/1/2014) lalu, terakhir dirasakan di DIY pada Senin (27/1) pukul 23:14 WIB. Gempa itu berpusat di 63 km barat daya Kebumen dengan kekuatan 5,3 SR. Sebelumnya, gempa susulan itu juga dirasakan pada Sabtu malam pukul 23:58 WIB dengan kekuatan 4,8 SR dengan pusat gempa 86 kilometer di barat daya Kebumen.
Menurut Kasi Data dan Informasi BMKG DIY Tony Agus Wijaya, gempa susulan itu sudah terjadi lebih dari 20 kali. "Tapi gempa susulan lain tidak terasa karena kekuatannya di bawah 3 SR. Itu tercatat di seismograf," ungkap Tony saat dihubungi wartawan di Kompleks Kepatihan, Senin (28/1/2014).
Ia menjelaskan, gempa susulan selalu mengiringi gempa tektonik. Gempat susulan terjadi karena ada pelepasan sisa-sisa energi akibat gempa utama. Namun, gempa susulan tidak akan sekuat gempa utama. "Gempa susulan terjadi sampai ada keseimbangan di pertemuan lempeng tektonik tersebut," terang dia.
Tony berpesan, agar masyarakat tidak panik ketika kerap terjadi gempa di DIY, karena DIY merupakan daerah rawan gempa. Pemicunya adalah terdapatnya pertemuan lempeng (subduksi) Indo- Australia dengan Eurasia di 300 km di selatan laut Jawa. Soal kapan bakal terjadi gempa, tak ada yang bisa meramal. Ilmu kegempaan yang berkembang 40 tahun terakhir, baru bisa mendeteksi potensi lokasi gempa dan maksimum magnitude. "Di selatan Jawa, kekuatan gempa terbesar 7 - 8 SR," ungkap dia.
Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial BMKG Jaya Murjaya menerangkan gempa berkekuatan maksimal berpotensi tsunami. Tapi, wilayah Jawa memiliki karakter gempa halus (low earthquake), tidak kasar seperti di Sumatra, karena pertemuan lempeng (subduksi) Indo- Australia dengan Eurasia di selatan jawa hampir tegak lurus, sementara di Sumatra miring.
Saat terjadi tabrakan lempeng, getarannya lebih halus. Namun justru robekan lempeng lebih panjang. Dan ini, menghasilkan tsunami lebih besar dari perhitungan rumus normal, seperti yang terjadi di Pangandaran. "Maka itu, saya sarankan ketika berada di bibir pantai dan ada gempa sebesar apapun, segera menjauh dari pantai," pesan Jaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.
Purbaya menyebut penerimaan bea keluar emas nyaris nol. Dari target Rp3 triliun 2026, realisasi hingga Semester I baru 0,03%.
RSUD Panembahan Senopati Bantul meluncurkan Si Banter untuk mempermudah pembayaran tagihan rumah sakit melalui digitalisasi dan QRIS.
Prabowo menyebut Indonesia menghabiskan hingga Rp535 triliun per tahun untuk impor BBM. Pemerintah mendorong kendaraan listrik dan EBT.