Seragam Baru Jukir Solo Dikritik, Wali Kota Singgung QRIS
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY menyatakan wilayah Jawa termasuk DIY masih akan sering digoncang gempa susulan maksimal dua sampai tiga pekan mendatang.
Gempa susulan akibat gempa tektonik yang berpusat di 108 kilometer barat daya Kebumen Sabtu siang (25/1/2014) lalu, terakhir dirasakan di DIY pada Senin (27/1) pukul 23:14 WIB. Gempa itu berpusat di 63 km barat daya Kebumen dengan kekuatan 5,3 SR. Sebelumnya, gempa susulan itu juga dirasakan pada Sabtu malam pukul 23:58 WIB dengan kekuatan 4,8 SR dengan pusat gempa 86 kilometer di barat daya Kebumen.
Menurut Kasi Data dan Informasi BMKG DIY Tony Agus Wijaya, gempa susulan itu sudah terjadi lebih dari 20 kali. "Tapi gempa susulan lain tidak terasa karena kekuatannya di bawah 3 SR. Itu tercatat di seismograf," ungkap Tony saat dihubungi wartawan di Kompleks Kepatihan, Senin (28/1/2014).
Ia menjelaskan, gempa susulan selalu mengiringi gempa tektonik. Gempat susulan terjadi karena ada pelepasan sisa-sisa energi akibat gempa utama. Namun, gempa susulan tidak akan sekuat gempa utama. "Gempa susulan terjadi sampai ada keseimbangan di pertemuan lempeng tektonik tersebut," terang dia.
Tony berpesan, agar masyarakat tidak panik ketika kerap terjadi gempa di DIY, karena DIY merupakan daerah rawan gempa. Pemicunya adalah terdapatnya pertemuan lempeng (subduksi) Indo- Australia dengan Eurasia di 300 km di selatan laut Jawa. Soal kapan bakal terjadi gempa, tak ada yang bisa meramal. Ilmu kegempaan yang berkembang 40 tahun terakhir, baru bisa mendeteksi potensi lokasi gempa dan maksimum magnitude. "Di selatan Jawa, kekuatan gempa terbesar 7 - 8 SR," ungkap dia.
Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial BMKG Jaya Murjaya menerangkan gempa berkekuatan maksimal berpotensi tsunami. Tapi, wilayah Jawa memiliki karakter gempa halus (low earthquake), tidak kasar seperti di Sumatra, karena pertemuan lempeng (subduksi) Indo- Australia dengan Eurasia di selatan jawa hampir tegak lurus, sementara di Sumatra miring.
Saat terjadi tabrakan lempeng, getarannya lebih halus. Namun justru robekan lempeng lebih panjang. Dan ini, menghasilkan tsunami lebih besar dari perhitungan rumus normal, seperti yang terjadi di Pangandaran. "Maka itu, saya sarankan ketika berada di bibir pantai dan ada gempa sebesar apapun, segera menjauh dari pantai," pesan Jaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Dua pria ditangkap usai diduga tabrak lari di Solo. Mobil menabrak tiang dan pohon, pelaku sempat diamuk massa.
Lima dosen UPN Jogja disanksi setelah terbukti lakukan pelecehan verbal. Kampus tegaskan komitmen lingkungan bebas kekerasan.
Pemerintah bongkar mafia pangan, dari beras oplosan hingga pupuk palsu. Kerugian rakyat ditaksir puluhan triliun rupiah.
Wapres Gibran dorong digitalisasi sekolah di Papua dan NTT. Fokus pada teknologi pendidikan dan peningkatan skill generasi muda.
SPMB Bantul 2026 resmi ditetapkan. Pendaftaran SMP full online dengan sistem RTO, ini syarat, jalur, dan kuotanya.