Mendagri Tito Usul Kepala Daerah Dapat Insentif dari PAD
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Harian Jogja/Gigih M. Hanafi Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara terlihat dari Desa Maguwoharjo, Sleman, Selasa (7/1). Asap sulfatara terus berembus seiring datangnya hujan di puncak gunung.
Harianjogja.com, JOGJA - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja Subandriyo mengatakan kondisi Merapi saat ini dalam kondisi normal, tak ada aktivitas yang perlu peningkatan status seperti gunung berapi lainnya. “Terpantau aktivitas kegempaan sepi, jarang- jarang,” kata dia saat dihubungi Harian Jogja, Senin (3/2/2014).
Pernyataan Subandriyo menanggapi rilis yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang menyatakan ada 19 gunung berapi di Indonesia yang saat ini berstatus waspada.
Ia meminta masyarakat di sekitar lereng Merapi tak perlu ikut khawatir. Hujan deras yang masih terus mengguyur wilayah DIY saat ini, menurut dia, juga tak memicu letusan freatik seperti pada November 2013 lalu. Ia mengatakan, hujan kala itu memicu letusan freatik karena ada pelepasan gas yang tinggi di Merapi.
Gunung Sindoro, Jawa Tengah yang dua tahun lalu sempat mengeluarkan asam sulftara, lanjut dia, sejauh ini juga tidak terpantau menunjukan akan adanya indikasi aktivitas magmatik.
Subandriyo mengatakan, pantauan kegempaan di Merapi sekarang ini sudah dapat dapat dilakukan secara kontinu per menit dengan alat baru tiltmeter yang dipasang di daerah Pasar Bubrah. Alat itu diklaim lebih akurat untuk melihat deformasi lereng Merapi. Sehingga BPPTKG tidak sekadar mengandalkan alat konvensioanl seismograf, yang hanya bisa memantau kegempaan secara temporer.
Ia enggan membeberkan kondisi gunung berapi yang sekarang ini dinyatakan Waspada, termasuk Gunung Kelud meskipun melalui peralatan yang ada BPPTKG Jogja bisa ikut memantaunya. Pasalnya, itu menjadi kewenangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memaparkannya.
Hanya untuk erupsi Gunung Sinabung, ia melihat polanya sama ketika erupsi Merapi 2006. Saat itu, besarnya letusan Merapi memiliki skala tiga Volcanic Explosivity Index, sama dengan letusan Sinabung yang memuntahkan material 1,5 juta meter kubik. Sedangkan pada erupsi 2010, VIE kekuatan letusan Merapi adalah empat. “Jadi letusan Sinabung kemarin masih berada satu tingkat di bawah letusan Merapi 2010,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Kemensos mencoret 880 penerima bansos di Sukoharjo yang terindikasi bermain judi online. DPRD meminta langkah tegas menjadi efek jera.
DPRD Bantul meminta seleksi Pilur 2026 berlangsung transparan dan objektif jika bakal calon lurah melebihi lima orang di satu kalurahan.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi meminta perguruan tinggi mengintegrasikan sains, agama, dan Pancasila untuk mencetak SDM unggul.
Kredivo menghentikan sementara penagihan dan menonaktifkan debt collector usai dugaan pelanggaran penagihan di Purworejo.
Film dokumenter Jalan Pulih terkurasi di Djourno Fest 2026. Karya ini mengangkat perjuangan perempuan dengan disabilitas psikososial dan makna pemulihan.