Warga Nitipuran Tuntut Penutupan Pesantren

Selasa, 04 Maret 2014 12:40 WIB
Warga Nitipuran Tuntut Penutupan Pesantren

Harianjogja.com, BANTUL- Warga RT 8 Nitipuran, Ngestiharjo, Kasihan Bantul sepakat menutup Pesantren Darusunnah, sebagai imbas http://www.harianjogja.com/baca/2014/03/03/sekelompok-orang-rusak-rumah-warga-di-bantul-493435" target="_blank">perusakan sejumlah rumah warga yang diduga dilakukan santri pesantren tersebut Minggu (2/3/2014) siang. Pemilik pesantren membantah, pelaku kriminal tersebut melibatkan santrinya.

Senin (3/2/2014) siang, sejumlah warga RT 8 Nitipuran menggelar musyawarah mengenai tindak lanjut perusakkan yang menimpa lima rumah warga serta lima orang yang diancam hendak dibunuh. Humas Warga Nitipuran Joko Budiyanto menyatakan, warga mayoritas sudah sepakat menutup pesantren yang sudah tiga tahun lebih berdiri tersebut.

Warga menganggap, keberadaan pesantren tersebut meresahkan masyarakat bila melihat tindak tanduk orang-orangnya selama ini. "Awalnya mau langsung kami segel dan menyerang ke sana, cuma kami khawatir terjadi amuk massa," terang Joko, Selasa (3/2/2014).

Untuk menutup pesantren, warga menggalang tanda tangan. Menurut dia, ada sekitar 1.500 orang warga Nitipuran yang akan memberikan tanda tangan.

Sri Rejeki, salah satu warga yang rumahnya turut dirusak puluhan orang tak dikenal menggunakan jubah dan cadar tersebut mengatakan, selama ini tidak ada perilaku baik dari santri ke warga.

Selain merusak rumah dan mengancam membunuh dengan pedang, mereka kerap mengebut saat melintasi di gang sempit menuju pesantren tersebut. Hal itulah yang memicu aksi perusakan lantaran salah satu wali santri yang berkendara dengan kecepatan tinggi diperingatkan oleh warga sekitar lalu dibalas dengan aksi perusakan.

Warga menegaskan tidak mau berdamai dengan pihak pesantren. "Kami tetap ingin ini diproses secara hukum dan pelaku ditangkap," tegas Sri.

Pemilik Pesantren Darussunah Munajad, membantah santrinya terlibat aksi perusakan dan ancaman pembunuhan. Meski diakuinya, para pelaku memarkir motor di depan pesantren. "Mungkin teman-temannya wali santri, santri saya tidak ada terlibat. Kemarin juga hari Minggu saya juga tidak ada di tempat," ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online