Profil Gus Rozin Bangun BPRS untuk UMKM di Sekitar Pesantren
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Harianjogja.com, JOGJA- Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Eko Suwanto, menantang mahasiswa untuk menciptakan teknologi ramah lingkungan.
Eko Suwanto mengatakan upaya menciptakan daya dukung lingkungan yang ideal untuk kehidupan manusia, harus selalu menjadi rujukan bagi semua pihak baik pemerintah, pengusaha maupun masyarakat.
"Menyatu dengan alam faktor penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Baik itu secara fisik maupun dengan perilaku hidup manusia," kata Eko di sela-sela Rapat Kerja Nasional Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan se-Indonesia di Balai Diklat Perindustrian Kotagede Jogja, Minggu (30/3/3014)
Eko berbicara di depan 200-an mahasiswa dari perwakilan jurusan teknik lingkungan dan mahasiswa utusan berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Diponegoro, Universitas Islam Indonesia, dan IST Akprind Jogja.
Dia mengatakan pentingnya komitmen bersama meningkatkan daya dukung kualitas lingkungan. Sebagai ilustrasi, dengan semangat kebersamaan, saat ada masalah lingkungan bisa mendapatkan solusi pemecahan.
Ia mencontohkan, belum lama ini, Indonesia dikejutkan oleh letusan Gunung Kelud yang lontaran abu vulkaniknya mengguyur 2/3 wilayah Pulau Jawa.
"Abu Gunung Kelud tersebar ke mana-mana, jadi persoalan lingkungan karena kualitas udara di perkotaan yang terdampak abu membahayakan kesehatan. Gunung Kelud sesuai namanya mengajak kita reresik bersama," katanya.
Menurut dia, menyatu dengan alam ini faktor penting menjaga kelestarian lingkungan yang baik. Faktor lain, terkait dengan perilaku hidup manusia, kebijakan pemerintah, penegakan hukum hingga partisipasi masyarakat. Jika semuanya berjalan bersama, kelestarian lingkungan berjalan dengan baik.
Hanya saja, lanjut Eko, dalam sejumlah problema lingkungan, adanya keserakahan sejumlah pihak, di lapangan masih ditemukan kenyataan banyak persoalan lingkungan. Contohnya pengelolaan sampah yang belum maksimal, tata kelola sampah rumah tangga, perda RTRW belum dilaksanakan dengan baik.
"Di tingkat lokal, di Jogja ini kita bisa lirik Sleman dengan pengembangan hotel dan properti belum sepenuhnya perhatikan daya dukung lingkungan, itu bisa bermasalah nanti," kata Eko.
Ke depan, kata Eko, seluruh pemangku kepentingan, termasuk di antaranya mahasiswa teknik lingkungan diingkatkan harus memberi kontribusi nyata untuk perbaikan lingkungan yang sehat.
Lewat kemampuan berinovasi dan ide kreatif yang dimiliki, mahasiswa di tantang untuk berinovasi ciptakan teknologi tepat guna. "Sudah kita kenal misalnya, upaya meresapkan air hujan agar masuk ke tanah. Kita tahu teknologi realisasikan biopori, atau dengan teknologi, mahasiswa bisa ciptakan alat pembersih air hingga layak konsumsi," katanya.
(JIBI/Harian Jogja/Antara)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Jangan mudah tergiur game cuan dan bonus besar. Simak 6 cara mengecek legalitas, keamanan data, bonus, reputasi, dan penarikan dana.
China melaju ke final AVC Continental 2026 setelah mengalahkan Iran 3-0. Tuan rumah akan menghadapi Thailand di partai puncak.
Sejarah pajak ternyata sudah ada sejak sekitar 3.000 SM di Mesir Kuno. Begini cara Firaun memungut pajak berdasarkan lahan dan hasil panen.
Ingin membeli HP bekas? Simak cara membandingkan prosesor Snapdragon, Dimensity, dan Exynos berdasarkan generasi, CPU, GPU, AI, hingga kondisi perangkat.
Klasemen MotoGP 2026 berubah setelah Marc Marquez menang Sprint Aragon. Marc naik ke posisi ketiga dengan 212 poin, hanya empat angka dari Bezzecchi.