Mendagri Tito Usul Kepala Daerah Dapat Insentif dari PAD
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Harianjogja.com, JOGJA-Disk Jockey atau lebih akrab ditelinga dengan sebutan DJ kini tidak lagi identik dengan hingar bingar dunia hiburan malam. Jenis musik mereka yang kini mulai diterima secara umum tidak lagi membuat mereka melulu bekerja di dunia hiburan malam.
Lambat laun, DJ pun seakan menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda. Mungkin mereka tak menjadikan DJ sebagai profesi, tapi lebih sebagai wadah untuk menyalurkan ekspresi serta aktualisasi diri. Jogja sebagai Kota Pelajar juga tak luput dari menjamurnya sekolah DJ. Sekarang sekolah DJ lebih variatif ditemui. Salah satu sekolah DJ di Jogja adalah Goldstack Academic, yang beralamat di kawasan Jalan Rajawali, Cepit Baru, Depok, Sleman. Sekolah ini memiliki spesifikasi club mix sebagai materi pembelajaran mereka.
Pengelola Goldstack Academic Ronggo Pramudito mengatakan kebanyakan peminat sekolah DJ adalah anak muda. Pria yang telah menggeluti dunia DJ sejak 1999 ini, sebagian yang tertarik DJ berasal dari keluarga mampu.
Sebagian besar siswa sekolah DJ berumur antara 17-25 tahun. Saat ini dunia DJ sudah dipermudah dengan era digitalisasi yang memungkinkan para DJ memainkan musik dengan alat yang lebih modern dan simpel. Kendati demikian, harga peralatan tersebut relatif tingggi. Oleh karena itu, biaya sekolah juga cukup tinggi.
“Kalau biaya sekolah variatif, yang 24 kali pertemuan dibanderol Rp2,5 juta dan Rp3,5 juta untuk yang 32 kali pertemuan,” ujar pria 34 tahun ini.
Kelulusan siswa tidak ditentukan dari beberapa kali pertemuan, karena kemampuan setiap orang berbeda. Pria yang biasa menggunakan nama panggung Ditto Logix ini menerangkan murid di sekolah mereka akan diberikan training bila sudah dirasa cukup mahir, dan bila dirasa kemampuannya cukup bagus bisa langsung direkrut Goldstack Manajemen sebagai tim inti. Belum ada standardisasi yang bersifat nasional atau internasional untuk para lulusan sekolah DJ. Para siswa hanya diberi sertifikat lokal saja.
Berbicara soal gaji, Ditto mengaku seorang DJ bisa mendapatkan pendapatan sekitar Rp2 juta-Rp3 juta per bulan. Menurut Ditto, gaji DJ bisa dikatakan tinggi karena pekerjaan ini tidak butuh banyak tenaga tapi bisa mendapatkan ratusan ribu hanya dalam hitungan jam.
“Sudah tidak pakai keringat, bisa sekalian menyalurkan hobi musik pula,” tambah pria yang juga hobi menembak ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Bajaj akan meluncurkan motor listrik terbarunya ke pasar ekspor lebih dulu sebelum India. Amerika Latin dipilih sebagai target utama karena permintaan kendaraan
Asita DIY menilai tren wisata multi-destinasi menjadi peluang besar bagi Yogyakarta untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan, memperkuat ekonomi lokal, dan men
Harga Bright Gas resmi turun di DIY dan Pulau Jawa. Bright Gas 12 kg kini Rp220.000 dan 5,5 kg Rp103.000 per tabung mulai Juli 2026.
PT Importa Jaya Abadi membidik ekspansi ke pasar Asia Tenggara setelah memperkuat dominasinya di pasar domestik.
Profil Perry Warjiyo, ekonom asal UGM yang mengabdi sekitar 42 tahun di Bank Indonesia dan dikenal sebagai penggagas transformasi pembayaran digital melalui QRI