KEISTIMEWAAN DIY : Akademi Komunitas Dibuka Gratis untuk Pekerja Seni

Kamis, 05 Juni 2014 19:19 WIB
KEISTIMEWAAN DIY : Akademi Komunitas Dibuka Gratis untuk Pekerja Seni

PENETAPAN KAWASAN BERBUDAYA HKI Penari membawakan tarian Golek Asmaranda Bawaraga yang menggambarkan gadis yang sedang berdandan dalam acara penetapan kawasan berbudaya hak kekayaan intelektual di Kompleks Keraton Ngayogyakarta, Yogyakarta, Selasa (27/08/2013). Menkumham dalam kesempatan itu menetapkan sembilan entitas sebagai kawasan berbudaya hak kekayaan intelektual, yakni Keraton Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Indonesia (UII), Pemer

Harianjogja.com, JOGJA- Akademi Komunitas, program kegiatan keistimewaan jadi dibuka pada masa ajar 2014-2015 dengan menggratiskan biaya kuliah menggunakan APBD DIY.

Lewat akademi, pekerja seni lulus dengan sertifikat diploma satu (D1) dan berpeluang ditempatkan menjadi pegawai lepas Pemda DIY.

“Kalau menunggu perdais (peraturan daerah istimewa) turunan baru bisa terealisasi tahun depan,” ujar Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Komplek Kepatihan, Kamis (5/6/2014).

Padahal para pakerja seni sekarang ini membutuhkan sertifikat untuk bisa bekerja. “Mereka hanya ibarat orang jago masak, tapi tidak tersertifikasi.”

Sebagaimana diketahui, perdais turunan yang menjadi payung hukum program kegiatan keistimewaan belum juga dibahas sampai hampir habisnya masa jabatan anggota Dewan 2009-2014, meski dana keistimewaan dari pusat telah mengucur sebanyak dua kali.

Sultan mengatakan, para lulusan akademi komunitas itu nantinya juga akan diarahkan menjadi pekerja lepas (outsourcing) Pemda DIY untuk menjadi penjaga budaya di setiap pedesaan. “Kalau pegawai negeri enggak mungkin,” katanya.

Namun pada tahun ini baru tiga akademi tari, karawitan dan kriya. Lokasinya berada di masing- masing sanggar. Untuk tari berada di Dalem Pujokusuman, sedangkan Akademi Karawitan di Singosaren, Pleret. Adapun Kriya di Bangunjiwo. Sultan berharap ini dapat menjadi embrio.

“Sekarang baru itu, tapi nanti macam- macam bisa, yang penting diijinkan Dikti (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi),” ungkapnya.

Rencana untuk mengakomodir pengamen jalanan, kata Sultan, menunggu dibukanya akademi musik. Namun dengan catatan, pengamen itu adalah lulusan SMA dan akademi nantinya diakreditasi Dikti.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online