KEISTIMEWAAN DIY : Permainan Tradisional Bisa Dapat Danais

Uli Febriarni
Uli Febriarni Minggu, 15 Juni 2014 13:26 WIB
KEISTIMEWAAN DIY : Permainan Tradisional Bisa Dapat Danais

JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Sejumlah siswa dari 30 sekolah dasar dan SMP se-DIY mengikuti babak penyisihan lomba egrang dalam Festival Permainan Tradisional Anak di Lapangan Parkir Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Sabtu (17/11/2012). Anak-anak di perkotaan sudah sangat jarang memainkan permainan tradisional anak seperti egrang, teklek, dingklik oglak-aglik dan gangsingan, oleh karena itu perlombaan ini menjadi wahana memperkenalkan ragam permainan tradisional anak yang memiliki peran sebagai pembentu

Harianjogja.com, JOGJA-Permainan dan olahraga tradisional yang kini menuju kepunahan, direncanakan ke depannya dapat terwadahi dan mendapat jatah pengelolaan dari dana keistimewaan (danais) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Hal tersebut diungkapkan oleh GBPH Prabukusumo, ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY usai membuka lomba gobak sodor dan senam poco-poco, yang diselenggarakan Persatuan Wanita Olahraga Indonesia (Perwosi) DIY.

“Saya harap ada dukungan danais ke sana, karena permainan tradisional adalah produk leluhur. Kami siap mengelola, karena pelestariannya juga memberikan manfaat,” terang GBPH Prabukusumo, di Balaikota, Sabtu (14/6/2014).

Ia juga melanjutkan, bila diperlukan, presiden Republik Indonesia yang baru nantinya memiliki program pendanaan pelestarian permainan dan olahraga tradisional dari APBN. Dan atau dana tersebut masuk dalam APBD, sebesar 7,5%.

“Rinciannya nanti, 2,5 persen untuk pembangunan sarana dan prasarana fisik, 5 persen untuk olahraga profesional, olahraga prestasi, olahraga tradisional, olahraga masyarakat,” imbuh Prabukusumo.

Menurutnya, cukup sulit di masa sekarang, menemukan anak-anak yang mau bermain permainan dan olahraga tradisional seperti gobak sodor, angklek, panahan.

Padahal, ia mencontohkan, permainan dan olahraga tradisional berpotensi dikembangkan untuk lebih maju di kancah internasional. Dan menjadi lebih baik bila dapat diselenggarakan sebagai event rutin tahunan.

Sementara Sutikno, wakil ketua 1 Perwosi DIY memiliki pandangan yang tak jauh berbeda. “Perlombaan gobag sodor dipilih karena dapat membangkitkan permainan sekaligus olahraga tradisional yang telah lama dilupakan,” ujar Sutikno, dalam sambutannya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online