Keracunan MBG Meluas, 170 Pelajar Jombang-Nganjuk Terdampak
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.
Harianjogja.com, KULONPROGO– Kelompok petani pesisir mengeluhkan batalnya pemasangan jaringan kelistrikan untuk pertanian. Padahal, pembangunan jaringan listrik tersebut diharapkan dapat mengefisiensi biaya operasional untuk pertanian.
Suradal, 43, petani dari Dusun II, Desa Bugel, Panjatan mengaku kesal dengan pembatalan pembangunan jaringan listrik untuk lahan pertaniannya. Semestinya, saat ini jaringan listrik sudah terpasang, namun sampai saat ini baru tiang listrik saja yang terpasang.
“Baru togor [tiang listrik] yang sudah terpasang, tapi sampai saat ini listrik belum menyala. Kata pihak PLN ada masalah, lahan pertanian kami diklaim milik PT Jogja Magasa Iron,” ungkap Suradal kepada Harian Jogja, Minggu (14/9/2014).
Suradal mengaku, untuk menyirami tanaman cabai dan melon, dia harus menggunakan disel berbahan bakar bensin untuk menghidupkan pompa air. Setidaknya dalam sehari, bensin yang dibutuhkan mencapai tiga liter untuk mengairi sekitar 15 kepek tanaman cabai.
“Tetangga saya ada yang sudah pakai listrik. Biayanya jauh lebih murah dan dalam sehari pemakaian listri hanya mengeluarkan Rp2.000 untuk mengairi lahan dengan luas yang sama,” ungkap Suradal.
Lebih lanjut dia mengatakan, ada sekitar 55 petani yang telah mengajukan pemasangan listrik. Setiap warga telah mengangsur biaya pemasangan listrik sekitar Rp1 juta. Sampai nanti listrik menyala total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp2,3 juta per orang untuk listrik sebesar 900 watt.
Ketua kelompok tani Kisik Pranaji Sukarman menambahkan, rencana pemasangan jaringan listrik untuk pertanian sudah diajukan kelompok tani tersebut melalui proposal ke PLN yang berada di Semarang.
Namun, lantaran diklaim oleh pihak PT JMI yang menyatakan kawasan pertanian di Desa Bugel itu termasuk dalam dokumen kontrak karya kawasan penambangan pasir besi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.
Purbaya Yudhi Sadewa menunggu perhitungan BNPB sebelum menentukan tambahan anggaran untuk mitigasi bencana.
Akademisi Unpad menjelaskan erupsi sejumlah gunung api yang berdekatan waktunya tidak otomatis saling berkaitan karena sistem magmanya berbeda.
Wisata petik melon di Bugel, Kulonprogo, kembali buka Jumat 11 September 2026. Sebanyak 500 melon premium siap dipetik pengunjung.
BRIN mengimbau masyarakat dan nelayan tidak mengonsumsi ikan mati mendadak usai erupsi Anak Krakatau sebelum penyebabnya dipastikan.
BMKG menyebut arah angin berubah ke barat, barat laut, dan barat daya sehingga sebaran abu Anak Krakatau mulai berkurang.