Dua Balita Meninggal Dunia dalam Kebakaran Rumah di Banyumanik Semarang
Kebakaran rumah di Banyumanik Semarang menewaskan dua balita. Kakak N berusia tiga tahun meninggal setelah dirawat akibat luka bakar.
Harianjogja.com, KULONPROGO–Permintaan kelinci potong di Kulonprogo terus mengalami peningkatan. Namun, peternak hewan bertelinga panjang tersebut masih terbatas dan belum terlalu banyak dilirik sebagai usaha yang menjanjikan.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo Nur Samsu mengatakan, budidaya kelinci termasuk dalam kelompok ternak kecil yang memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan.
“Prospek budidaya kelinci di Kulonprogo sangat bagus. Apalagi untuk konsumsi, daging kelinci bisa menjadi pengganti daging sapi bila sewaktu-waktu harga daging sapi naik,” ungkap Nur saat ditemui Harian Jogja di kantornya, Selasa (16/9/2014).
Lebih lanjut Nur mengungkapkan, minat warga untuk membudidayakan kelinci masih sangat rendah. Selama ini budidaya kelinci dilakukan oleh kelompok-kelompok ternak di beberapa kecamatan. Bahkan, lanjut dia, beberapa kelompok ada yang sudah berhasil membudidayakan kelinci, sehingga populasi kelinci di Kulonprogo terus tumbuh.
“Data per 2013, populasi kelinci di Kulonprogo mencapai 21.746 ekor. Ada peningkatan populasi sekitar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Populasi terbanyak ada di Kecamatan Pengasih dengan jumlah populasi mencapai 4.660 ekor,” jelas Nur.
Ketua Kelompok Ternak Kelinci Wimari Budi Setiawan menambahkan, permintaan kelinci untuk konsumsi cenderung lebih banyak dibandingkan kelinci hias.
Bahkan, kelompok yang telah membudidayakan kelinci sejak 2007 lalu itu cukup kewalahan melayani permintaan daging kelinci.
“Konsumsi daging kelinci di Kulonprogo bisa dibilang cukup tinggi. Kami kebetulan baru mampu melayani satu pedagang. Paling tidak sepuluh ekor kelinci yang harus kami sediakan untuk satu pedagang saja,” jelas Budi.
Kelompok yang beranggotakan 15 orang tersebut kini sudah berhasil membudidayakan sekitar 400 ekor. Budi mengatakan, semula kelompok tersebut hanya membudidayakan beberapa ekor kelinci bantuan dari Diskepenak Kulonprogo.
Kini permintaan kelinci di kelompok tersebut masih didominasi untuk kebutuhan konsumsi dibandingkan kelinci hias. Namun, ketersediaan kelinci masih sangat terbatas, meskipun beberapa daerah di Kulonprogo sudah mulai membudidayakan.
“Usia kelinci yang siap potong rata-rata sekitar lima bulan, untuk menyediakan kelinci usia tersebut juga tidak mudah," kata Budi.
Selain terbatasnya jumlah peternak kelinci, harga kelinci yang kami ternakkan juga kalah bersaing dari luar DIY. "Sedangkan untuk kelinci hias, pasar di Kulonprogo tidak terlalu bagus, karena umumnya peminat kelinci hias musiman,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kebakaran rumah di Banyumanik Semarang menewaskan dua balita. Kakak N berusia tiga tahun meninggal setelah dirawat akibat luka bakar.
Perbandingan iPhone 18 Pro Max vs Galaxy S27 Ultra dari kamera, baterai, chipset, layar, harga hingga prediksi spesifikasinya.
Sebanyak 42 penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Minggu sore.
Pesawat aerosport Sky Ranger jatuh dan terbakar di persawahan Blora. Dua awak selamat dengan luka ringan setelah pendaratan darurat.
Garuda Indonesia membatalkan penerbangan dari dan menuju Jakarta, Bandung, dan Lampung hingga 7 September 2026 akibat abu vulkanik Anak Krakatau.
Perempuan 64 tahun di Nepal ditemukan selamat setelah 10 hari tertimbun reruntuhan akibat banjir bandang yang menerjang wilayah Rasuwa.