PERTANIAN BANTUL : Kemarau Panjang, Kualitas Padi Diprediksi Merosot

Selasa, 30 September 2014 14:20 WIB
PERTANIAN BANTUL : Kemarau Panjang, Kualitas Padi Diprediksi Merosot

JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Mujiyar, 58, mengairi lahan pertanian bawang merah yang ia garap dengan mesin penyedot air berbahan bakar premium yang dimodifikasi menggunakan gas elpiji di areal persawahan di Sanden, bantul, DI. Yogyakarta, Selasa (27/08/2014). Kesulitan mendapatkan BBM premium membuat para petani di daerah itu mencoba memodifikasi mesin penyedot air dengan gas elpiji 3 Kg, setiap harinya diperlukan dua liter premium untuk menghidupkan mesin pompa air, sementara dengan gas elpiji 3 Kg mam

Harianjogja.com, BANTUL—Dewan Pimpinan Cabang Serikat Petani Indonesia (SPI) Bantul mencatat kualitas padi tahun ini bakal merosot seiring kemarau panjang yang terjadi tahun ini.

Ketua DPC SPI Bantul Sumantoro mengungkapkan di sejumlah kawasan krisis air, benih padi yang baru saja ditanam mati karena tidak mendapatkan air yang cukup. Banyak tanah pertanian produktif menjadi bero atau tidak ditanami. Seperti di bulak Nggluntung, Desa Caturharjo, Kecamatan Pandak; Bulak Panjangrejo, Kecamatan Pundong dan di Tirtomulyo, Kecamatan Kretek. SPI Bantul mencatat kekeringan melanda pertanian karena ketidaktegasan dinas terkait dengan pola tanam petani.

“Kalau pola tanam saja tidak sesuai, kami [SPI] pun mempertanyakan kinerja petugas penyuluh lapangan dalam memberikan pemahaman kepada petani,” ungkap Sumantoro kepada Harianjogja.com, Senin (29/9/2014).

Dia mengamati sejumlah lahan pertanian yang terkena dampak langsung kekeringan di beberapa lokasi. Hasilnya, ada ketidaktegasan dalam satu blok lahan. Ada yang tanam padi, ada yang palawija. Sumartono menilai hal tersebut hendaknya tidak perlu terjadi karena ancaman hamanya pun bisa lebih dari satu jenis.

Hasil pemantauan SPI Bantul di Panjangrejo, penanaman padi juga terkesan dipaksakan yang akhirnya mati kekurangan air. Adapun, di daerah lain lagi, padi tetap bisa panen namun siklus hama nyaris tidak terkendali.

Atas kondisi ini SPI Bantul berharap dinas pertanian dapat segera menerapkan langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah pertanian yang diprediksi akan turun produksi akibat kemarau dan salah memilih jenis tanaman.

Petani di wilayah Kecamatan Jetis, Sugiyo, mengaku ada ketidakseragaman petani dalam masa tanam jelang kemarau ini. Ada yang menanam padi, ada yang palawija. “Saya memilih kacang-kacangan yang tingkat risikonya tidak separah padi jika memang kemarau kali ini panjang,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online