Kritisi Tata Kelola Kota Jogja, Warga dan Seniman Bersihkan Jembatan Kewek

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Minggu, 05 Oktober 2014 02:15 WIB
Kritisi Tata Kelola Kota Jogja, Warga dan Seniman Bersihkan Jembatan Kewek

JIBI/Desi Suryanto Ratusan penggiat ruang publik kota menutup sebuah iklan operator seluler dalam gerakan Serangan Oemoem 1 Maret, Rebut Ruang Kota Jogja! di bawah Jembatan Rel Kereta Kewek di Jalan Kleringan, Yogyakarta dalam aksi lanjutan Merti Kutha, Jumat (01/03/2013) malam. Aksi itu mengkritisi pemberian ijin reklame oleh Pemerintah Kota Yogyakarta pada ruang publik yang merupakan benda cagar budaya. Kawasan Kewek merupakan land mark bersejarah bagi Yogyakarta, oleh karena itu pemanfaatannya tidak unt

Harianjogja.com, JOGJA-Puluhan warga dan seniman kota Jogja yang tergabung dalam Warga Berdaya kerjasama membersihkan Jembatan Kewek, Jogja, Kamis (2/10/2014) sore. Aksi yang dilakukan warga dan seniman tersebut sebagai wujud keprihatinan dengan tata kelola Kota Jogja yang tidak teratur.

Setelah dibersihkan dari coretan, Jembatan Kewek rencananya akan dilukis dengan gambar visual yang memberi kesan Jogja sebagai kota budaya dan kota pelajar.

"Bentuk gambarnya masih kita pikirkan bersama setelah selesai bersih-besih," kata salah satu anggota komunitas Street Art, Digie Sigit disela-sela kerjabakti membersihkan jembatan.

Menurut Digie, untuk menentukan gambar visual di Jembatan Kewek yang akan menjadi galeri publik masih didiskusikan dengan warga, seniman, budayawan, akademisi dan pengamat seni sehingga nantinya karya yang akan ditampilkan tidak menambah kekacauan visual Jogja, melainkan semakin menambah keindahan dan mengandung pesan atas tata kelola Jogja.

Yoshi Fajar Kresna Murti, salah satu motor penggerak aksi Warga Berdaya menambahkan, aksi bersih-bersih Jembatan Kewek merupakan rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan warga melalui bersih-bersih kampung dan berbagai kegiatan warga yang peduli kebersihan lingkungan.

Saat ini warga, kata Yoshi, mengeluhkan kurangnya ruang publik yang nyaman karena tata kelola Kota Jogja yang tidak teratur. Pembangunan hotel dan mall yang marak dituduh ikut memperburuk citra Jogja sebagai kota budaya dan kota pelajar.

Sebab diakui Yoshi dari hasil diskusi dan pembacaan bersama warga debit air banyak yang berkurang dengan pembangunan hotel dan mall. Tuduhan itu menjadi pembenar karena selama ini warga tidak mengetahui proses administrasi pembangunan hotel terutama ijin penggunaan air. "Ternyata banyak juga pembangunan hotel dan mall yang melanggar lingkungan," klaim Yoshi.

Yoshi merencanakan warga berdaya akan merilis hasil kajian pembangunan hotel dan mall yang melanggar lingkungan dalam empat hari mendatang.

Dia berharap aksi Warga Berdaya menjadi bahan renungan untuk semua pemangku kebijakan di kota Jogja untuk peduli lingkungan. Pemerintah perlu mengkaji lagi tata kelola kota Jogja agar pembangunan kota benar-benar mencerminkan kota budaya dan kota pelajar yang nyaman bagi semuanya.

Sementara, Dodo Putra Bangsa, salah satu warga yang ikut dalam aksi warga berdaya mengaku, di wilayahnya saat ini warga sudah menikmati air setelah salah satu hotel menghentikan penggunaan air di Kampung Miliran, Muja-muju, Umbulharjo, untuk kepentingan hotel. "Penggunaan air oleh hotel hotel sangat berpengaruh bagi ketersediaan air di pemukiman warga," ujar Dodo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online