Viral Dugaan Perundungan Siswa MTs di Pati, Sekolah Bantah Bullying
Kasus siswa MTs di Pati yang mengalami putus dua jari masih diselidiki polisi. Sekolah membantah terjadi perundungan dan menyebutnya kecelakaan.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dua desa di Kecamatan Temon, yaitu Temon Kulon dan Temon Wetan, batal terdampak pembangunan bandara baru. Hal ini disebabkan pengurangan luas lahan yang akan dijadikan sebagai lokasi pembangunan bandara.
Sampai sejauh ini, pembangunan bandara di Temon hanya mengenai lima desa, yakni Sindutan, Palihan, Glagah, Jangkaran, dan Kebonrejo.
Tim Persiapan Pembangunan Bandara Baru (P2B2) Bambang Eko mengungkapkan dasar pengurangan lahan berdasarkan persetujuan Direksi PT Angkasa Pura (AP) I.
“Dari master plan bandara luas semula sekitar 648 hektare, pengurangan sekitar 50-an hektare,” sebutnya di sela-sela pendataan awal di Kantor Camat Temon, Selasa (14/10/2014).
Diuraikannya, terdapat tiga titik yang berubah, yakni pembuatan rel kereta api di Temon Kulon dan Wetan ditiadakan, tempat wisata religi Gunung Lanang di Jangkaran tidak jadi terkena pembangunan bandara, serta arus keluar masuk bandara di tepi Jalan Nasional Wates-Purworejo tidak jadi di sisi utara jalan, melainkan mepet dengan tepi jalan sisi selatan.
Bambang memaparkan, rel kereta api tidak dihilangkan selamanya, hanya saja PT AP I berencana melakukan pembahasan soal rel kereta api tidak dalam waktu dekat.
“Biar pembangunan berjalan dulu, nanti tetap akan ada kereta api, namun mekanismenya dibahas belakangan,” imbuh dia.
Sementara, Gunung Lanang tidak jadi terkena pembebasan lahan karena permintaan dari warga yang menginginkan tempat wisata religi tersebut dilestarikan karena sampai sekarang masih dimanfaatkan orang banyak.
Menurut dia, tidak ada persoalan yang ditemui dari perubahan titik, mengingat berdasarkan desain bandara tidak ada fasilitas yang ditempatkan di areal yang ditiadakan tersebut.
Untuk batas bandara, kata Bambang, masih sama dengan desain awal yakni sisi barat berbatasan dengan Sungai Bogowonto dan sisi timur sampai dengan Glagah.
“Yang membedakan hanya garisnya saja, kalau dulu garis dari utara Gunung Lanang, sekarang dari selatan ditarik ke barat,” ungkapnya.
Mengenai radar Congot, Bambang Eko belum dapat memastikan area tersebut ikut terdampak pembangunan bandara atau tidak. Untuk sementara, pembebasan lahan untuk radar Congot ditunda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus siswa MTs di Pati yang mengalami putus dua jari masih diselidiki polisi. Sekolah membantah terjadi perundungan dan menyebutnya kecelakaan.
UAD melantik dekan baru untuk periode kepemimpinan berikutnya guna memperkuat transformasi kampus dan menghadapi akreditasi institusi 2027.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero)Tbk (BSI) bersama Danantara Indonesia mempercepat penguatan ekonomi kerakyatan dengan membangun ekosistem pemberdayaan UMKM
BMKG mengimbau petani menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas tahan kering untuk mengurangi risiko gagal panen akibat El Nino.
Warga Desa Kahuman, Klaten, menggelar Sendratari Manusuk Sima untuk mengangkat sejarah Upit, permukiman kuno yang telah berusia 1.160 tahun.
BMKG memprakirakan gelombang laut di perairan selatan Bali mencapai 6 meter pada 5-8 Agustus 2026 akibat aktifnya monsun Australia.