Klaim BPJS Ketenagakerjaan Tembus Rp242 Miliar
Belajar membatik barangkali masih terlalu sulit bagi anak-anak usia dini. Namun, Rumah Produksi Batik Nakula Sadewa di Dusun Iropaten, Desa Triharjo, Sleman mempermudah pengenalan batik dengan belajar mewarnai polanya saja. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com, Rima Sekarani I.N.
Sejak mengelola Rumah Produksi Batik Nakula Sadewa pada tahun 1997, Bambang Sumardiyono sudah berkali-kali membagikan ilmu membatik dalam berbagai pelatihan. Namun, hari itu peserta pelatihan bukanlah remaja atau orang dewasa, melainkan anak-anak berusia tiga sampai enam tahun.
“Hari ini kita akan belajar mewarnai batik. Adik-adik bebas memilih warna mana saja yang sudah disediakan,” begitu kata Bambang di depan sekitar 50 anak dari Play Group dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) Yasmin Muadz Bin Jabal Sleman, Kamis (16/10/2014) pagi.
Dengan telaten, Bambang menunjukkan bagian mana yang harus diberi warna. “Warnai yang ada gambarnya, jangan yang bagian putih,” kata dia sambil menunjukkan pola batik pada sebuah kain putih yang dia bawa dengan kuas.
Agar lebih meyakinkan, dia menyontohkan cara mewarnai batik. Dia memilih cat berwarna ungu. “Ini warnanya nanti bisa berubah setelah diberi HCL. Sekarang belum muncul, tapi nanti mungkin warna ungu bisa berubah jadi hijau,” katanya.
Menyadari puluhan anak di depannya sudah tidak sabar, Bambang langsung mempersilakan anak-anak mulai mewarnai. Beberapa anak masih harus didampingi oleh guru, tapi ada juga yang sudah lincah memilih warna.
“Kamu ambil warna apa? Dari yang mana?” tanya Jasmin kepada temannya, Hani.
Kedua anak berusia enam tahun tersebut kemudian asik mewarnai kain batik dengan hati-hati. Meski demikian, mereka pun tidak ambil pusing saat bagian cat meluber hingga ke luar pola.
Nabil yang masih berumur tiga tahun tidak ingin kalah. Karena tubuhnya yang kecil, dia bahkan harus beberapa kali beranjak dari tempatnya duduk untuk menjangkau cat yang diletakkan di depannya. “Ustadah, aku sudah,” seru Nabil saat merasa sudah selesai dengan pekerjaannya.
Pada tahun 2009 lalu, batik telah diakui dunia sebagai kekayaan budaya Indonesia. “Tapi kita bisa senang-senang karena batik sudah diakui UNESCO. Bisa saja kita tersaingi dan pengakuan dunia tersebut dicabut,” ujar Bambang.
Oleh karena itu, Bambang menilai kecintaan terhadap batik perlu dikenalkan sejak usia dini. “Harapannya, 20 tahun mendatang, dia akan ingat apa yang sudah pernah dia pelajari saat kecil. Dengan demikian, kita bisa tetap melestarikan batik,” kata pria berusia 52 tahun tersebut.
Sejak tahun 2013, Rumah Produksi Batik Nakula Sadewa aktif mengisi pelatihan membatik bagi anak-anak hingga dewasa. “Dengan anak-anak memang harus lebih sabar. Tapi, di situ saya menemukan komposisi warna yang unik dari imajinasi anak,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Best City Hotel Yogyakarta merayakan HUT ke-9 dengan tema Grow With The Best dan memperkuat komitmen layanan hospitality di Jogja.
Daftar lokasi Salat Iduladha 2026 1447 H Muhammadiyah di Gunungkidul resmi dirilis PDM. Cek ratusan titik salat Id di seluruh kapanewon.
Polisi Banyumas membongkar penipuan berkedok “Sultan Nusantara”. Korban rugi Rp50,8 juta usai dijanjikan pembersihan harta dan haji.
KPK memeriksa dua pejabat Kemenhub terkait kasus dugaan suap proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api DJKA Kemenhub.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyebut nasib guru honorer 2027 masih dibahas pemerintah. Guru non-ASN dipastikan tetap bekerja hingga 2026.