Pengayuh Becak Motor Minta Tak Dirazia, Ini Alasan Mereka

Sabtu, 18 Oktober 2014 20:15 WIB
Pengayuh Becak Motor Minta Tak Dirazia, Ini Alasan Mereka

JIBI/Desi Suryanto Puluhan pengemudi becak motor (betor) menggelar aksi unjuk rasa menentang razia becak motor di halaman gedung DPRD DIY, di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (19/11/2013). Mereka juga menuntut agar keberadaan becak motor dapat dilegalkan. Ketidakmampuan fisik dalam mengayuh dan kurang cepatnya laju becak menjadi alasan utama mereka melakukan modifikasi becak dengan menempelkan mesin motor sebagai penggerak, modifikasi yang mereka lakukan menelan biaya sekitar Rp 1 juta hingga puluhan ju

Harianjogja.com, JOGJA- Pengayuh becak motor di Jogja meminta agar kepolisian dapat merazia, bahkan mencopoti mesin betor.

Parmin, pengurus komunitas betor mengaku tak memperoleh undangan atau dilibatkan dalam sosialisasi penataan Malioboro, padahal ia saban harinya mangkal di daerah pertigaan Terang Bulan Malioboro.

Bahkan, ia pun mengaku sebagai ketua pengurus becak motor dan onthel di areanya itu. Ia mengatakan, jumlah betor di DIY sekarang ini ada sekitar 1.700, sedangkan yang beroperasi di Malioboro ada sekitar 600. “Tiap hari terus bertambah,” katanya.

Menurutnya, kebanyakan pengayuh becak yang beralih ke betor karena usia yang sudah tua sehingga tidak capek. Dengan begitu, pengayuh becak masih dapat menggarap sawahnya sepulang atau sebelum mencari nafkah lewat betor. “Kalau dirazia, polisi harus mau menanggung kesejahteraan kami,” katanya.

Ia membantah ada sentimen antarpengayuh becak dengan betor di Maliobor. Baik betor ataupun becak onthel biasanya mengantre untuk mendapatkan penumpang. Siapa yang paling depan mendapatkan lebih dahulu. “Namun kalau ada yang jauh baru disarankan naik betor,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online