Warga Jogja Ditantang Berani Gundul
Masyarakat Magelang menyaksikan bangkai truk pasir yang terjebak di tengah Sungai Pabelan, Dusun Bakalan, Sawangan, Kabupaten Magelang, Senin (13/1/2014). Sedikitnya empat unit truk penambang pasir terseret banjir lahar dingin Merapi yang datang tiba-tiba saat antre memuat pasir di lokasi penambangan aliran Sungai Pabelan. (JIBI/Solopos/Antara/Anis Efizudin)
Harianjogja.com, SLEMAN—Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Fauzan Darmadi mengungkapkan, volume material vulkanik di puncak Gunung Merapi diperkirakan masih mencapai 70 juta meter kubik. Padahal, daya tampung enam sungai yang berhulu di Gunung Merapi hanya sekitar 20 juta meter kubik. Enam sungai itu masing-masing Sungai Opak, Gendol, Kuning, Krasak, Progo, dan Boyong.
“Material terbanyak berada di Sungai Gendol karena awan panas 2010 lalu lebih banyak mengarah ke sana,” paparnya, Senin 27/10/2014).
Banyaknya volume material vulkanik di puncak, lanjut Fauzan, memerlukan langkah mitigasi bencana.
“Salah satunya dengan normalisasi sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Selama ancaman lahar dingin ada, normalisasi masih dibutuhkan,” ucapnya.
Guna mengantisipasi ancaman banjir lahar hujan, pihaknya telah menyiapkan lebih dari 1.200 beronjong dan 32.000 karung. Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Sleman, Sapto Winarno menambahkan, beronjong dan karung bisa digunakan sebagai tanggul sementara. Jika stok yang disediakan kurang, pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman.
“Beronjong dan karung akan didistribusikan sesuai kebutuhan. Jika ada tanggul yang jebol akibat banjir lahar hujan, masyarakat bisa meminta kepada kami melalui BPBD Sleman sebagai koordinator mitigasi bencana,” kata Sapto.
Selain menyiapkan beronjong dan karung, Dinas SDAEM Kabupaten Sleman juga giat menyiapkan sarana dan prasarana lain serta meningkatkan kualitas petugas di lapangan.
“Kami cek kondisi sarana dan prasarananya, misalnya HT [Handy Talky]. Kami juga sepakat dengan BPBD agar teman-teman di lapangan dibekali dengan kemampuan mitigasi bencana banjir lahar hujan,” kata Sapto.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan turun pada November 2014 mendatang. Kepala BPBD Sleman, Julisetiono Dwi Wasito menyatakan, Sungai Gendol, Opak, dan Code dipetakan sebagai wilayah waspada banjir lahar hujan.
“Pada masing-masing titik rawan, sudah disusun rencana kontijensi berupa manajemen penanggulangan risiko bencana,” paparnya.
Dalam rencana kontijensi, data jumlah penduduk, personel yang terlibat, titik pengungsian, dan rencana evakuasi pada wilayah rawan bencana sudah disiapkan.
“Semuanya juga sudah kami koordinasikan dengan berbagai instansi dan pihak terkait. Jadi, ketika bencana benar-benar ada, semuanya sudah siap,” ungkap Juli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Pemkab Bantul siapkan lima kalurahan untuk program Kampung Redam hasil kerja sama dengan Kementerian HAM. Fokus pada resolusi konflik dan keadilan restoratif.
Daftar klub yang lolos ke Liga Champions 2026/2027. Simak klub raksasa yang lolos otomatis dan daftar tim yang berjuang lewat kualifikasi di sini.
KDMP Tamanmartani menggunakan dana LPDB untuk operasional awal klinik pratama sambil menunggu kerja sama BPJS Kesehatan.