Kronologi Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Keracunan MBG, Mual Muntah
259 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikmah Sidoarjo dirawat setelah diduga keracunan usai menyantap makanan MBG.
Harianjogja.com, KULONPROGO-Mobilitas Afda Taksi di Kulonprogo masih rendah. Belum adanya ketergantungan masyarakat di Kulonprogo pada armada taksi disinyalir menjadi penyebabnya.
Dari 10 armada taksi yang tersedia, hanya dua unit yang beroperasi dan stand by di Kulonprogo. Sisanya, beroperasi di Jogja dan Sleman.
Dari pantauan, Afda Taksi yang sudah beroperasi sejak sebulan lalu tak nampak di titik lokasi pangkalan yang ditentukan, yakni, RSUD Wates, Stasiun Wates, serta Terminal Wates.
Justru Afda Taksi seringkali terlihat di wilayah bundaran UGM, Selokan Mataram, Jalan Sudirman Jogja, dan sebagainya.
Direktur Afda Taksi Sapto Raharjo mengakui pemasaran Afda Taksi di Kulonprogo belum gencar sehingga peminatnya justru berasal dari luar Kulonprogo.
“Mungkin juga karena tingkat konsumsi masyarakat di Kulonprogo tidak sebesar masyarakat Jogja dan Sleman sehingga mereka juga masih pikir-pikir untuk menggunakan taksi kalau tidak perlu sekali,” terangnya, Selasa (28/10/2014).
Ia menyebutkan, rata-rata dalam sehari Afda Taksi menerima panggilan 10 sampai 11 kali dari penumpang yang berada di DIY, namun penumpang dari Kulonprogo hanya berkisar dua atau tiga orang.
Ia memaparkan kebanyakan tujuan penumpang taksi dari Kulonprogo ke arah timur [Jogja dan Sleman] sehingga hal itu menjadi salah satu penyebab Afda Taksi menumpuk di wilayah tersebut. Adapun penumpang taksi yang menuju arah barat [Kutoarjo dan Purworejo] jarang.
Kendati demikian, Sapto menilai keberadaan Afda Taksi diterima masyarakat. Hampir sebulan beroperasi terjadi peningkatan jumlah panggilan armada yang menandakan Afda Taksi dikenal masyarakat.
Ia menguraikan, pada minggu pertama tidak ada panggilan pemesanan taksi, namun memasuki minggu kedua, mulai muncul panggilan dan meningkat pada minggu ketiga yang mencapai 10 panggilan per hari.
Menurutnya, keberadaan taksi di Kulonprogo sesuai dengan keinginan Bupati Kulonprogo yang bermaksud untuk menarik perhatian investor dari luar.
“Seiring dengan pembangunan bandara di Kulonprogo maka investor juga perlu tahu bahwa ada taksi yang beroperasi di Kulonprogo,” imbuh Sapto.
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menuturkan keberadaan taksi di Kulonprogo menunjang pembangunan megaproyek yang mulai berjalan. “Perlahan-lahan jumlahnya akan bertambah, yang terpenting masyarakat tahu ada taksi di Kulonprogo,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
259 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikmah Sidoarjo dirawat setelah diduga keracunan usai menyantap makanan MBG.
Febrie Adriansyah diperiksa hampir 7 jam dan dicecar soal Tan Kian. Kuasa hukum menyebut Febrie tegas membantah menerima uang dari Tan Kian.
Jalan Baru Kretek-Girijati sepanjang 5 Km mulai uji coba open traffic 14-20 September 2026 dengan pembatasan kendaraan dan jam operasional.
Keterkaitan Boy Thohir dengan MGLV tercatat melalui PT Trinugraha Thohir yang memiliki 2,25% saham serta PT Trinugraha Thohir Harmoni sebesar 4,86%.
DPRD DIY meminta DTSEN tidak diterapkan kaku karena data bansos harus diuji dengan kondisi riil warga, termasuk pekerja informal dan pengguna pinjol.
Gus Kikin memastikan tetap menjaga kedekatan dengan PWNU Jatim meski lebih banyak bertugas di Jakarta sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031.