KISAH PENERBANG PESAWAT TEMPUR : Pernah Lintasi Puting Beliung dan Merapi Saat Berasap

Sunartono
Sunartono Kamis, 06 November 2014 16:20 WIB
KISAH PENERBANG PESAWAT TEMPUR : Pernah Lintasi Puting Beliung dan Merapi Saat Berasap

Serma Siswa Yagi Maulana (JIBI/Harian Jogja/Sunartono)

Harianjogja.com, SLEMAN-Wing Pendidikan Terbang Lanud Adisutjipto meluluskan 15 penerbang militer yang menempuh pendidikan Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan 86 melalui jalur Prajurit Sukarelawan Dinas Pendek (SPDP). Satu siswa di antaranya, Yagi Maulana akan ditugaskan sebagai penerbang tempur di Skuadron 21 Abdulrahman Saleh, Malang.

Tinggal selangkah lagi, cita-cita seorang remaja bernama Yagi Maulana segera terwujud. Menjadi penerbang tempur adalah idamannya sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Alumni Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Majalengka, Jawa Barat ini akan dikukuhkan sebagai Perwira Penerbang Militer bersama 14 rekannya oleh Kepala Staff Angkatan Udara, Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, pada Jumat (7/11/2014) besok. Selanjutnya Yagi akan bertugas sebagai pilot pesawat tempur di Skadron 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur. Kokpit pesawat tempur ringan EMB-314 Super Tucano buatan Brasil tengah menunggu kiprahnya.

Tidak semua angkatan Sekbang dapat terpilih menjadi penerbang tempur. Sebagian besar lebih diarahkan ke satuan heli dan angkut. Untuk mempersiapkan tugasnya di Skadron 21, Yagi pun sudah mulai mempelajari tentang karakter pesawat tempur bercocor merah yang baru dibeli Indonesia pada 2012 itu.

“Sudah mulai mempelajari [Super Tucano] tapi rata-rata hampir sama dengan pesawat yang ada di sini [Lanud Adisutjipto],” ujar Sersan Mayor (Serma) Siswa, Yagi Maulana, saat ditemui Harianjogja.com di Skadik 104 Lanud Adisutjipto, Rabu (5/11/2014).

Remaja kelahiran 13 Juni 1993 ini sudah mengantongi 180 jam terbang. Dengan rincian 120 jam bersama pesawat latih lanjut T-34 Charlie dan 60 jam bersama pesawat latih mula AS 202 Bravo yang kini sudah dikandang karena usia. Yagi pernah terbang solo, terbang malam, terbang formasi dan lainnya. Berbagai gemblengan di kawah candradimuka PSDP meski berat dapat dilaluinya. Yagi tak ingin berbagi kisah beratnya menempuh pendidikan. Bagi dia seberat apapun pasti bisa diatasi dengan belajar, berusaha dan berdoa.

Dua kali penerbangan yang paling berkesan saat menempuh pendidikan yakni ketika nyaris melintasi angin puting beliung di laut selatan DIY dan melintas di atas gunung teraktif di dunia, Merapi, dalam keadaan mengeluarkan asap.

Saat ditanya jika nanti sudah bertugas di satuan tempur, apakah siap ketika harus menurunkan paksa pesawat asing yang melanggar kedaulatan NKRI, seperti yang dilakukan sejumlah seniornya baru-baru ini? Yagi menjawab, “Saya akan lakukan yang terbaik untuk negara ini.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online