BANDARA KULONPROGO : PT AP I Berencana Adopsi Pendekatan Kultural, Seperti Apa?

Jum'at, 07 November 2014 11:20 WIB
BANDARA KULONPROGO : PT AP I Berencana Adopsi Pendekatan Kultural, Seperti Apa?

Ilustrasi Espos/Sunaryo Haryo Bayu TAK MEMADAI -- Penumpang pesawat udara yang naik dan turun di Bandara Adi Soemarmo selama ini tak didukung akses transportasi yang memadai sehingga sebagian dari mereka kini lebih memilih Adisucipto di DIY sebagai alternatif. Adi Soemarmo mahal, Adisucipto jadi pilihan SOLOPOS 28 FEB 2011 HAL 5 LAPORAN KHUSUS

Harianjogja.com, KULONPROGO—PT Angkasa Pura (AP) I berencana mengadopsi pendekatan kultural yang dilakukan PT AP II dalam pembangunan bandara baru di Kecamatan Temon. Hal itu diungkapkan Direktur Kepersetaan dan Keuangan PT AP I Aryadi Subagyo seusai pelaksanaan kunjungan kerja Pemkab Kulonprogo ke Bandara Ineternasional Minangkabau (BIM) PT AP II di Padang Pariaman belum lama ini.

Menurut Aryadi pendekatan kultural yang dilakukan PT AP II dalam tahap pembebasan lahan dinilai efektif dan berhasil membuat warga percaya serta membuktikan pembangunan bandara selalu berdampak positif bagi warga sekitar. Dalam proses pembangunan BIM, tuturnya, pembebasan lahan melibatkan tokoh adat yang memiliki sebagian besar tanah.

“Saya akan menyampaikan hasil pertemuan kepada jajaran direksi dan menentukan langkah strategis selanjutnya,” ujarnya belum lama ini.

Diungkapkannya, pembangunan bandara bukan untuk mencari keuntungan karena dari segi bisnis break-even point (BEP) bandara baru yang berada di Temon akan tercapai setelah 17 tahun. Ia menilai, pembangunan bandara baru bertujuan untuk membuat city airport pertama di Indonesia yang berdampak pada kemajuan wilayah di sekitarnya.

“Kalau berpikir segi bisnis biar saja bandara tetap di Adisucipto dan pengunjung berdesak-desakan, namun kami mengedepankan aspek pelayanan sehingga kenyamanan tetap harus diutamakan,” terang Aryadi.

Ia mengatakan dalam penerapan pendekatan kultural akan menggandeng UGM untuk melakukan pemetaan sehingga jelas emografis

serta psikografis masyarakat setempat. Persoalan-persoalan lain yang ditemukan dalam kunjungan, imbuhnya, juga akan ipaparkan secara detail kepada direksi, seperti, latar belakang kepemilikan lahan, kondisi lahan, dan sebagainya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online