PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Ini Ragam Masalah Petani Gunungkidul

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Kamis, 13 November 2014 02:15 WIB
PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Ini Ragam Masalah Petani Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Setiap daerah pertanian memiliki karakteristik tersendiri. Begitu juga kondisi di Gunungkidul, berikut kelemahan dan kelebihan pertanian di Nglipar dan Ngestiharjo.

Tanah Keras, Hujan Jadi Penolong
Petani di Kecamatan Nglipar, Wasino mengatakan sebelum hujan deras, tiga hari sebelumnya daerah tersebut sudah  merasakan gerimis. Namun, petani belum berani mengolah tanahnya. Menurut dia, petani di Nglipar biasanya menunggu hujan benar-benar turun baru mulai menanam.

“Tanah di sini keras dan ulet. Jadi, kami kesulitan jika mau menanam sebelum hujan benar-benar baik,” ujar dia, Selasa (11/11/2014).

Wasino menambahkan, hujan yang turun membuat tanah menjadi lebih mudah diolah. Selanjutnya, tanah tersebut  akan ditanami padi. Ia mengatakan, turunnya hujan merupakan hal yang sangat disyukuri.

Monyet Jadi Musuh Petani Ngestiharjo
Berbeda dengan daerah selatan misalnya di Ngestirejo, Tanjungsari. Salah satu petani, Suratno mengatakan, tanaman padi yang ditanam sudah mulai tumbuh. Menurut dia, tanah di Ngestirejo lebih gembur sehingga lebih mudah diolah.

“Sebelum hujan turun, kami sudah mengolah tanah dan menaburinya dengan benih. Jadi, saat hujan turun, benih padi langsung tumbuh,” ujar dia.

Namun, di wilayah Ngestirejo, petani harus menghadapi kendala berupa serangan monyet ekor panjang. Suratno mengatakan, monyet biasanya turun ke ladang milik warga. Meskipun belum ada tanaman yang tumbuh, lanjut dia, monyet tetap menyerang.

“Monyet-monyet itu  mengambil padi yang sudah ditanam oleh warga. Pada musim tanam tahun lalu tidak ada kejadian seperti itu,” ucap dia.

Mengantisipasi serangan, petani membuat uritan. Ia menjelaskan, petani menanam padi di pojokan ladang. Jumlah benih yang ditanam pun sangat banyak.

“Misal benih yang sudah disebar dihabiskan monyet, kami masih memiliki benih di uritan. Jika, sudah tumbuh, maka akan ditanam di ladang seperti cara menanam padi di sawah,” ungkap dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online