15 Desa di Kulonprogo Belum Punya Perpustakaan

Senin, 17 November 2014 15:20 WIB
15 Desa di Kulonprogo Belum Punya Perpustakaan

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra Kumala Anak-anak memilih buku di Perpustakaan Kampung di Mutihan, Sondakan, Laweyan, Solo, Senin (3/3). Perputakaan yang bertujuan mencerdaskan masyarakat sekitar dan menumbuhkan budaya gemar membaca tersebut buka setiap hari Senin-Sabtu mulai pukul 14.00-16.30 wib.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Perpustakaan desa di Kulonprogo mencapai lebih dari 80 unit tersebar di 73 desa. Meski beberapa perpustakaan memiliki prestasi yang baik, namun sebagian besar masih belum berkembang optimal. Bahkan 15 desa belum punya perpustakaan.

"Ada perpustakaan yang sudah jalan, tetapi ada juga yang belum bisa jalan. Beberapa bahkan sudah ada yang juara tingkat nasional," ujar Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kulonprogo Supriyono, baru-baru ini.

Supriyono mengatakan, dari 12 kecamatan dan 88 desa, perpustakaan desa baru dimiliki 73 desa. Jumlah perpustakaan desa yang ada mencapai lebih dari 80 unit, di mana setiap desa ada yang memiliki lebih dari satu perpustakaan. Sedangkan 15 desa hingga saat ini belum dapat memiliki perpustakaan.

Menurut dia, pemerintah desa masih belum dapat mengupayakan adanya perpustakaan desa karena sejumlah faktor. Desa yang belum memiliki perpustakaan tersebar di beberapa kecamatan, yakni Nanggulan, Temon, Panjatan, Girimulyo dan Samigaluh.

"Dari komunikasi yang kami lakukan, kendalanya sangat umum. Pertama tidak punya gedung, lalu tidak ada biaya, dan juga tidak ada sumber daya manusianya," papar Supriyono.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, kondisi perpustakaan di daerah sangat memprihatinkan. Dia mengungkapkan, jangankan perpustakaan desa yang selalu terkendala fasilitas, kondisi perpustakaan di sekolah maupun instansi juga masih jauh dari predikat baik.

Supriyono menjelaskan, saat ini fokus utama yang dilakukan adalah pembenahan pengelolaan perpustakaan. Sebagian besar perpusatakaan masih belum beroperasi secara maksimal lantaran terkendala SDM.

Untuk itu, pihaknya juga mencoba memberdayakan mahasiswa maupun pelajar yang sedang praktik kerja lapangan (PKL) agar dapat membantu menggeliatkan lagi perpusatakaan yang sudah berdiri.

"Mereka akan membantu mengajarkan ke pengelola perpustakaan tentang manajemen pengelolaan perpustakaan," imbuh dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online