Promosi Desa Wisata di Sleman, Sudahkah Efektif?

Rima Sekarani
Rima Sekarani Sabtu, 13 Desember 2014 05:20 WIB
Promosi Desa Wisata di Sleman, Sudahkah Efektif?

JIBI/Desi Suryanto Dimas Diajeng Yogyakarta bersama sejumlah warga mencoba naik rakit wisata di Bendung Tegal, Kebong Agung, Imogiri, Bantul, DI. Yogyakarta, Sabtu (14/12/2013). Rakit wisata sumbangan dari Dinas Pariwasata DIY itu diserahkan kepada warga untuk digunakan dan dikelola sebagai wahana wisata baru di Dusun Candran sebagai desa wisata. Di atas rakit, wisatawan dapat menikmati pemandangan di kawasan bendungan yang latar belakang pegunungan seribu.

Harianjogja.com, SLEMAN—Pengembangan desa wisata sebagai salah satu produk wisata unggulan akan menjadi prioritas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman.

Namun, Kepala Disbudpar Sleman, Ayu Laksmidewi mengakui, strategi pemasaran desa wisata masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera digarap tahun depan.

Ayu memaparkan, selama ini pihaknya telah menggunakan berbagai cara untuk mempromosikan desa wisata.

“Kami menggelar kegiatan yang bisa menarik wisatawan, misalnya family trip dan java summer camp. Kalau ada pameran, mereka [desa wisata] juga kita ajak,” kata Ayu kepada wartawan di Ruang Humas Setda Sleman, Kamis (11/12/2014).

Meski demikian, Ayu mengakui, pemasaran desa wisata masih belum optimal. “Kami berencana akan menyampaikan promosi paket desa wisata melalui kerja sama dengan PHRI [Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia],” ungkap Ayu kemudian.

Menurut Ayu, pengembangan potensi desa wisata sangat relevan dengan tren pariwisata yang mulai beralih ke alam.

“Desa wisata punya nilai jual yang baik, sepanjang dia mampu menunjukkan potensi lokal. Misalnya potensi alam, seni, budaya, atau kuliner yang dikelola masyarakat,” ujar Ayu.

Setidaknya terdapat 38 desa wisata yang resmi tercatat Disbudpar Sleman. Ayu berharap, pengelola desa wisata tidak latah dalam penawaran paket wisata. “Misalnya jangan semuanya outbond. Nanti kalau sama semua, jadi tidak menarik lagi,” ujar Ayu.

Desa wisata di Sleman dibagi menjadi tiga klasifikasi, yaitu desa wisata tumbuh, berkembang, dan mandiri. Ayu mengatakan, klasifikasi tersebut bukanlah bentuk diskriminasi. “Ini memudahkan pendampingan karena kami harus membuat mereka berani memunculkan potensi yang khas,” ucap Ayu.

“Tidak harus ada kegiatan. Misalnya membiasakan anak-anak dengan permainan tradisional atau membuat masakan khas. Jadi selalu siap kalau sewaktu-waktu ada tamu,” kata Ayu menambahkan.

Sementara itu, Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Disbudpar Sleman, Wasita menambahkan, pengunjung desa wisata didominasi komunitas masyarakat metropolis. “Terutama desa wisata mandiri, itu sudah ada jaringan sendiri,” ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online