PENIPUAN BANTUL : Kian Marak, Warga di Desa dan Pelajar Banyak Jadi Korban

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Senin, 29 Desember 2014 16:20 WIB
PENIPUAN BANTUL : Kian Marak, Warga di Desa dan Pelajar Banyak Jadi Korban

Ilustrasi penipuan dengan fitur perbankan. (JIBI/Solopos/Dok.

Penipuan Bantul yang berkedok undian berhadiah masih banyak terjadi, mayoritas warga yang tinggal di pedesaan dan pelajar menjadi korban,

Harianjogja.com, BANTUL- Penipuan bermodus hadiah kini menjadi kejahatan yang paling sering terjadi di Bantul. Kalangan warga di pedesaan paling banyak menjadi korban penipuan jenis ini.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Bantul AKP Akbar Bantilan menyatakan, penipuan ini berupa informasi menang undian
berhadiah yang disampaikan lewat pesan singkat (short message service-SMS) via telepon genggam serta melalui kemasan produk. Lewat
kemasan produk, pelaku menyelipkan semacam kertas kupon berisi informasi hadiah yang dapat dimiliki oleh pelanggan yang membeli produk
tersebut.

“Misalnya di kupon dalam produk makanan itu ada keterangan anda memenangkan hadiah mobil, padahal itu tipuan,” terang Akbar pekan lalu.

Sedangkan modus penipuan melalui SMS, dilakukan pelaku dengan berupura-pura mengumumkan ke korban sebagai pemenang hadiah undian.
Korban yang percaya dengan penipuan lewat kupon dan SMS itu lalu dipandu pelaku melalui telepon untuk menransfer sejumlah uang ke
rekening pelaku.

“Korban dipandu menransfer uang untuk pelaku alasannya untuk pelunasan pajak sebelum hadiah diberikan, korba percaya saja karena bahasa
yang disampaikan pelaku terdengar profesional seperti bahasa customer service,” ujarnya.

Korban bahkan percaya hingga menransfer uang berkali-kali lewat rekening bank. Setelah menransfer uang korban baru sadar, informasi hadiah
itu adalah tipuan dan melapor ke polisi. Dalam sebulan, Polres maupun Polsek Bantul menurutnya menerima tiga hingga empat kali laporan
penipuan bermodus menang hadiah tersebut. Jumlah laporan tersebut bahkan melebihi kejahatan penipuan biasa. Polisi memperkirakan,
kejahatan jenis ini telah mengakibatkan kerugian korban hingga ratusan juta rupiah.

Menurut Akbar, kalangan warga di pedesaan paling sering menjadi korban penipuan, bahkan termasuk kalangan pelajar.

“Biasanya paling banyak tertipu itu warga yang tinggal di pedesaan, mungkin karena mereka kurang banyak mendapat informasi,” lanjutnya.

Polisi sampai sekarang belum berhasil menangkap satu pun pelaku. Menurut Akbar, kebanyakan pelaku berada di luar pulau Jawa setelah polisi
menelusuri data rekening milik pelaku.

Kejadian semacam ini menurutnya tidak hanya dikeluhkan para korban di Bantul.

“Kami juga berkomunikasi dengan kepolisian di luar Bantul di DIY, dan informasinya banyak korban yang tertipu dengan kejahatan seperti ini,
jadi tidak hanya menjadi masalah di Bantul saya rasa juga seluruh DIY,” paparnya.

Terpisah, Kepala Polres Bantul AKBP Surawan mengatakan, penipuan bermodus hadiah masih akan menjadi tren kejahatan pada 2015.

“Terus terang penipuan seperti ini banyak sekali, ini yang masih menjadi pekerjaan rumah polisi untuk menanganinya,” terang Surawan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis