Rupinem menunjukan burung-burung puyuh yang mati mendadak sebelum dibakar dan dikubur, Senin (5/1/2015). (JIBI/Harian Jogja/Holy Kartika
N.S.)
Unggas mati mendadak di Kulonprogo menyebabkan peternak merugi hingga puluhan juta rupiah
Harianjogja.com, KULONPROGO- Kasus kematian unggas secara mendadak mulai dikhawatirkan para peternak di sekitar lokasi peternakan yang terinfeksi virus Avian Influenza atau flu burung.
Mengendalikan penyebaran virus, tim reaksi cepat penanganan kasus flu burung akan melakukan penyemprotan disinfektan secara massal.
Selama sepekan, ribuan ekor burung puyuh yang diternakan salah satu peternak di Dusun Sedan, Desa Sidorejo mati mendadak. Kematian unggas kecil itu pun terjadi begitu cepat, meski telah dilakukan penyemprotan disinfektan secara maksimal. Setidaknya lebih dari 9.500 ekor burung yang siap bertelur mati dan menyebabkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Yoniwati, 30, salah satu peternak burung puyuh lainnya mengaku, khawatir dengan kejadian tersebut. Apalagi usaha ternak unggas itu baru dimulainya pertengahan tahun 2014 dan saat ini produktifitas burung puyuh petelurnya sedang sangat produktif.
“Jelas saya khawatir karena saya baru mulai usaha ini. Memang belum banyak, ada sekitar 1.000 ekor [burung puyuh] yang saya budidayakan,” ujar Yoni saat ditemui di sela Sosialisasi Pengendalian Virus Flu Burung di salah satu rumah warga, Sabtu (10/1/2015).
Yoni mengungkapkan, di dusun tersebut jumlah peternak yang mengembangbiakkan burung puyuh cukup banyak. Setidaknya ada lebih dari sepuluh peternak dengan jumlah burung puyuh yang mencapai 10.000 ekor lebih. Apalagi jarak antar peternakan juga tidak terlalu jauh.
“Saya masih pemain baru dalam membudidayakan burung puyuh. Karena kejadian ini, beberapa peternak katanya ada yang menjual ternaknya itu agar tidak ketularan virus,” jelas Yoni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tags: