40 Penumpang Masih di KM Mutiara Sentosa II, Menunggu Evakuasi
Kebakaran KM Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep menyisakan 40 penumpang di kapal. Sebanyak 218 orang selamat dan 4 meninggal dunia.
Bandara Kulonprogo, dinilai tidak sebanding dengan pengorbanan menyerahkan lahan, warga tak setuju konsep pemukiman kembali.
Harianjogja.com, KULONPROGO-Warga tak setuju dengan konsep pemukiman kembali yang dicetuskan Pemkab Kulonprogo dalam rencana pembangunan bandara di Kecamatan Temon. Pasalnya, konsep tersebut dinilai warga tidak sebanding dengan pengorbanan mereka menyerahkan lahan demi terwujudnya bandara.
Hal itu terungkap dalam pertemuan informal antara perwakilan warga dari Pedukuhan Ngringgit, Munggangan, dan Tanggalan, Desa Palihan, Temon, dengan Pemkab Kulonprogo dan Tim Pembangunan Bandara di Wates, Kamis (29/1/2015).
Menurut Rapih Juwito, warga Ngringgit, pemukiman kembali tidak cukup mewakili kebutuhan warga masyarakat. Sebab, dalam pemukiman kembali hanya diberikan lahan untuk tempat tinggal, padahal warga membutuhkan konsep pemukiman yang lebih menyeluruh dan melibatkan banyak aspek kehidupan di dalamnya.
“Kalau pemukiman kembali ya warga hanya pindah saja, padahal yang kami butuhkan juga penataan lingkungan, termasuk soal mata pencaharian dan areal bisnis,” paparnya.
Diuraikannya, warga berkeinginan konsep relokasi yang menyeluruh, meliputi, bagian depan terdapat ruko atau kawasan bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh warga, fasilitas keagamaan, areal untuk melakukan kegiatan sosial, lahan-lahan yang bisa dipergunakan warga untuk menambah penghasilan, dan sebagainya.
Ia menyebutkan, setidaknya terdapat 120 KK yang menginginkan konsep relokasi seperti itu. Relokasi, kata dia, bukan sekadar pemukiman kembali, melainkan membentuk peradaban baru. Rapih menilai selama ini warga tidak pernah dilibatkan dalam membahas persoalan relokasi karena proses yang menjadi prioritas adalah akuisisi lahan.
“Padahal, relokasi ini yang paling perlu, kalau soal akuisisi lahan memang masih ada warga yang setuju atau tidak, tetapi yang paling penting ke depannya seperti apa setelah bandara jadi,” ujarnya.
Ia menegaskan keinginan warga terkait konsep relokasi terus diperjuangkan sampai mendapat titik temu yang bisa disepakati kedua belah pihak.
“Ini masalah hati saja kalau soal relokasi, warga sudah berkorban sudah sepatutnya dalam relokasi warga menjadi prioritas utama,” imbuh dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kebakaran KM Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep menyisakan 40 penumpang di kapal. Sebanyak 218 orang selamat dan 4 meninggal dunia.
Nusron Wahid menyebut integrasi data dan percepatan pelayanan pertanahan dapat mempersempit celah mafia tanah.
KAI Daop 6 Yogyakarta menyediakan Wi-Fi gratis di 33 stasiun dengan kecepatan hingga 400 Mbps. Simak daftar stasiun yang mendapat fasilitas
Sebanyak 100 pamong kalurahan Sleman purna tugas pada 2026. Pengisian jabatan dilakukan bertahap sesuai waktu kekosongan.
AESI mendorong optimalisasi lahan untuk mengejar target PLTS 100 GW dengan skema bertahap, termasuk rooftop dan pembangkit skala besar.
Kemenhub memperluas ETLE Hub ke 51 titik untuk mengawasi angkutan barang dan mengejar target zero ODOL pada 2027.