JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto
Ilustrasi
Penataan Malioboro mengenai sumbu imajiner dinilai terlambat.
Harianjogja.com, JOGJA-Pemerhati Tata Kota Jogja, Dambung Lamuara menyesalkan upaya penataan Malioboro berdasarkan filosofis sumbu imajiner baru dilakukan saat ini oleh pihak UPT Malioboro.
"Omong kosong itu, kemarin-kemarin kemana? Berbicara filosofis sumbu imajiner kok baru sekarang? Sudah terlambat banget," sesalnya, Rabu (18/2/2015).
Ia menerangkan, tata ruang kota yang didasarkan pada filosofis sumbu imajiner Pantai Selatan-Kraton-Altar-Tugu-Merapi yang merupakan kearifan lokal, sudah seharusnya sudah dilakukan sejak lama. Seharusnya, kata dia, ada pertimbangan juga kaitannya keberadaan bangunan yang diatur dengan ketinggian tertentu.
Sayang, saat ini, di salah satu titik sumbu imajiner, yakni terdekat dengan Monumen Tugu saja sudah berdiri bangunan yang begitu menjulang.
"Lihat saja di Jl.Mangkubumi sudah ada beragam hotel dan bangunan tinggi lainnya. Yang jelas apapun rencana Pemkot Jogja untuk menata ruang di Malioboro, harus pertimbangkan aspek human skill atau skala manusia, jangan lagi ada seperti yang kita lihat seperti sekarang, dekat Tugu kok bangunan tinggi-tinggi seperti itu bisa berdiri," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tags: