PERTUKARAN PEMUDA : Pelajari Budaya Jogja, Ini Tanggapan Remaja Gereja Korea

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Minggu, 22 Februari 2015 05:20 WIB
PERTUKARAN PEMUDA : Pelajari Budaya Jogja, Ini Tanggapan Remaja Gereja Korea

Sebanyak 12 pemuda dan 1 pendeta dari Gereja Gocheok, Korea Selatan tengah memasak masakan tradisional Korea untuk warga GKJ Gondokusuman, Selasa (17/2/2015). (JIBI/Harian Jogja/Mediani Dyah Natalia)

Pertukaran pemuda gereja antara GKJ Gondokusuman Jogja-Gereja Gocheok, Seoul, Korea Selatan berlangsung pada 14-19 Februari 2015. Dalam kurun waktu itu, 12 remaja K-pop itu belajar mengenai budaya Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA-GKJ Gondokusuman Jogja dan Gereja Gocheok, Seoul, Korea Selatan mengadakan pertukaran pemuda pada 14-19 Februari 2015 di Jogja. Bagaimana kisahnya?

Dengan tekun Kim Yeji mengambil malam dengan canting. Setelah ditiup dia kemudian menggambarkannya ke dalam kain yang ada di depannya. Dengan hati-hati, warga negara Korea Selatan itu membuat batik. Membatik menjadi salah satu kegiatan dari pertukaran pemuda antara Gereja Gocheok Korsel dan GKJ Gondokusuman Jogja.

Kim Yeji merasa mendapat kesempatan yang luar biasa dapat berkunjung ke Jogja. Dari sekian pengalaman selama di Jogja, gadis ini terkesan dengan pelajaran membatik.

"Butuh kesabaran. Jika tidak hati-hati, malam akan meleleh dan jatuh. Jadi harus diulang lagi. Diulang juga harus telaten, supaya hasilnya halus," paparnya.

Ketua Majelis GKJ Gondokusuman, Winarna mengatakan program ini terselenggara setelah sejumlah pendeta dari Gereja Presbiterian Korea Selatan melakukan kunjungan ke GKJ Gondokusuman.

“Setelah pertemuan tersebut, mereka bertanya apa yang dapat dilakukan di masa depan. Kemudian saya merespons untuk mengirimkan pemuda kalian ke sini [Jogja] supaya tahu kehidupan di Jogja dan melihat budaya, masyarakat dll,” terang dia kepada Harianjogja.com, saat ditemui di GKJ Gondokusuman Jogja, Selasa (17/2).

Ternyata, kata dia, Gereja Presbiterian Korea Selatan memberikan respons positif dengan mengirimkan 12 pemuda dan satu pendeta ke Jogja. Win menjabarkan pemuda tersebut tinggal di rumah warga sejak 14-17 Februari 2015 agar dapat mengetahui kehidupan dan kebudayaan di Jogja.

"Mereka tidak hanya berbaur dengan warga gereja tetapi juga belajar membatik dan main gamelan. Ternyata mereka antusias mengikuti kegiatan ini," paparnya.

Selanjutnya pada 18-19 Februari, peserta tinggal di hotel untuk berwisata di Candi Borobudur, Gunung Merapi, Kraton dan Malioboro.

Win menyampaikan ke depan, kegiatan ini akan rutin dilakukan. Hanya lokasi penyelenggaraan bergantian tiap tahun. Misalnya, kata dia, tahun ini acara berpusat di Jogja, tahun depan di Korea, begitu juga seterusnya.

Selain pertukaran pemuda, gereja berencana juga melakukan pertukaran pendeta. Adapun, seharusnya GKJ Gondokusuman sebenarnya berencana mengirimkan pendeta ke Australia, tetapi karena terdapat beberapa kendala, wacana tersebut belum dapat dilakukan. Dengan adanya kerja sama GKJ Gondokusuman Jogja-Gereja Gocheok, Korea Selatan, diharapkan pertukaran pendeta dapat segera ditindaklanjuti.

Win menilai pertukaran seperti ini perlu menjadi perhatian gereja. Sebab pada 31 Desember 2015, Indonesia masuk MEA.

"Artinya, kami harus mempersiapkan diri mengikuti pergaulan global. Jangan hanya berkutat di dalam [di gereja] saja, dengan adanya penyesuaian, kita dapat menjawab kebutuhan umat," papar dosen Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) ini.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online