KOTA RAMAH DIFABEL : Taman Lalu Lintas Uji Kelayakan Siswa Inklusi
JIBI/HARIHarian Jogja/Desi Suryanto UJIAN SIM BAGI DIFABEL--Puluhan waraga difabel di Bantul mengikuti ujian kompetensi teori dan praktek untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) golongan C di Pasar Seni Gabusan, Jalan Parangtritis, Bantul, Kamis (15/12). Keinginan untuk melengkapai diri dengan SIM saat mengemudikan motor membuat penyandang difabel tuna daksa ini secara kolektif mengikuti ujian SIM, mereka mengandalkan motor sebagai sarana transportasi di saat sejumlah alat transportasi lain seperti bis
Kota ramah difabel berusaha mengembangkan aneka fasilitas untuk membantu siswa berkebutuhan khusus.
Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja memanfaatkan kunjungan siswa berkebutuhan khusus dari SD Bias untuk melakukan uji coba kelayakan fasilitas Taman Lalu Lintas bagi penyandang disabilitas guna implementasi Jogja sebagai kota inklusi.
"Dari kunjungan ini, kami akan mengetahui hal-hal apa saja yang harus ditingkatkan sehingga Taman Lalu Lintas ini bisa diakses oleh siapa saja dengan mudah termasuk penyandang disabilitas," kata Kepala Bidang Pengandalian Operasi dan Bimbingan Keselamatan Lalu Lintas Dishub Kota Jogja Sugeng Darmanto, Kamis (26/3/2015).
Menurut dia, peningkatan kualitas Taman Lalu Lintas tersebut tidak hanya dilakukan untuk fasilitas fisik semata tetapi juga untuk sumber daya manusia (SDM) yang memberikan edukasi mengenai keselamatan berlalu lintas ke pengunjung yang datang.
Saat ini, Taman Lalu Lintas didukung oleh tiga personel yang bertugas untuk memberikan edukasi kepada pengunjung dan seorang petugas di bidang pemeliharaan.
"Kami akan berusaha memberikan pembekalan agar petugas edukasi pun bisa memahami bagaimana cara yang tepat saat menyampaikan informasi kepada anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kondisi anak," katanya.
Sedangkan untuk pengembangan fisik akan dilakukan dengan penambahan taman di sisi barat dan pendopo di sisi utara Taman Lalu Lintas serta penambahan peraga. Total dana yang dianggarkan dari APBD Kota Jogja untuk pengembangan taman tersebut mencapai sekitar Rp510 juta.
"Perencanaan sudah selesai dan siap dimasukkan ke Unit Layanan Pengadaan pada April dan diharapkan kegiatan fisik sudah bisa dilakukan mulai Juni," katanya.
Di Taman Lalu Lintas tersebut, pengunjung akan diajarkan mengenai cara-cara yang tepat saat berkendara di jalan raya di antaranya menggunakan jalur yang benar dan selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas.
"Kecelakaan lebih banyak disebabkan oleh unsur kesalahan manusia karena tidak menaati rambu lalu lintas. Harapannya, anak-anak sudah bisa mengerti sejak dini mengenai keselamatan berlalu lintas sehingga bisa mengurangi angka kecelakaan," katanya.
Sugeng menambahkan, sudah memiliki rencana lain untuk pengembangan Taman Lalu Lintas yaitu pemberian edukasi penggunaan transportasi umum yaitu mengajak anak menggunakan kendaraan umum dengan benar yaitu naik dan turun dari halte bus. Taman Lalu Lintas tersebut kebetulan berada di kompleks Terminal Giwangan.
Sementara itu, Divisi Inklusi Community Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (Sapda) Sutiyono mengatakan, pemberian pelatihan mengenai keselamatan berlalu lintas untuk anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan.
"Mereka pun harus tahu dan memahami cara berlalu lintas dengan aman guna mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya," katanya.
Meskipun demikian, ia berharap agar fasilitas di Taman Lalu Lintas tersebut ditingkatkan sehingga lebih menjamin keamanan anak berkebutuhan khusus, misalnya penambahan ram, kondisi jalan yang lebih landai, jalan dilengkapi "guidance block" dan toilet yang bisa diakses oleh anak berkebutuhan khusus.
"Secara umum fasilitas pendidikan keselamatan berlalu lintas sudah cukup baik, namun perlu sarana pendukung agar mudah diakses oleh anak berkebutuhan khusus," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share