Stunting, Warga Bertubuh Pendek Banyak Ditemukan di Kawasan Lumbung Pangan

Rima Sekarani
Rima Sekarani Jum'at, 03 April 2015 14:21 WIB
Stunting, Warga Bertubuh Pendek Banyak Ditemukan di Kawasan Lumbung Pangan

Seorang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengukur tinggi badan seorang perempuan yang melamar menjadi calon Bintara Brigadir Wilayah Solo di Mapolresta Solo, Minggu (20/4/2014). Seleksi calon bintara di Kota Solo diikuti oleh 132 pendaftar pria dan 114 pendaftar wanita. (Septian Ade Mahendra/JIBI/Solopos)

Stunting atau warga bertubuh pendek banyak ditemukan di kawasan lumbung pangan

Harianjogja.com, SLEMAN-Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman tahun 2014, angka stunting (tubuh pendek) pada balita mencapai 12,87%.

Ironisnya, kebanyakan kasus stunting justru ditemukan di kawasan lumbung pangan.

“Stunting itu malah kebanyakan di daerah lumbung pangan, yaitu Minggir, Moyudan, dan Ngemplak. Bayi yang saat lahir punya panjang kurang dari 48 centimeter (cm) dan beratnya kurang dari 2,5 kilogram (kg) itu punya resiko stunting,” ungkap Widi Harto, Kasi Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Rabu (1/4/2015).

Widi mengatakan, stunting memang membutuhkan penanganan jangka panjang. “Pemenuhan kebutuhan protein itu sebenarnya dimulai sejak awal kehidupan. Kami berusaha mengantisipasi melalui sosialisasi, termasuk bagi para remaja dan calon pengantin. Sejak awal sudah dapat penjelasan, misal makanan untuk ibu hamil itu seperti apa,” paparnya.

Dinkes Sleman berusaha memperkuat peran posyandu untuk menanggulangi stunting.

“Sebenarnya, di setiap dusun ada kelompok ibu yang bisa bersama-sama membahas soal makanan bagi bayi, ibu hamil, hingga pemeriksaan pertumbuhan anak. Kita harap stunting bisa segera terdeteksi dan tidak sampai berlanjut jadi gizi buruk,” ujar Widi.

Soal mayoritas penemuan stunting yang justru ada di daerah lumbung pangan, pola asuh disebut jadi faktor utama.

“Belum tentu orang miskin, namun karena kurangnya pemahaman soal kandungan gizi yang seharusnya diberikan ke balita. Jadi kita mengedukasi bagaimana menu yang seimbang. Tidak harus mahal tapi diperhatikan proteinnya. Jangan asal kenyang,” kata Kepala Dinkes Sleman, Mafilindati Nuraini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online