BANGUNAN CAGAR BUDAYA : Peninggalan Belanda, Ini Cara Lestarikan Los di Pasar Pleret.

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Senin, 13 April 2015 09:20 WIB
BANGUNAN CAGAR BUDAYA : Peninggalan Belanda, Ini Cara Lestarikan Los di Pasar Pleret.

JIBI/Desi Suryanto Tim ekskavasi Dinas Kebudayaan Provinsi DI. Yogyakarta melakukan ekskavasi Kraton Dalam dalam situs Kedaton, di Dusun Kedaton, Pleret, Bantul, DI. Yogyakarta, Jumat (03/05/2013). Struktur kaki benteng Srimanganti atau Pacaosan dengan ketebalan 2,6 meter ditemukan dalam ekskavasi tersebut, bangunan itu menghadap ke utara dengan kemiringan 6 derajat. Situs Kedaton Pleret merupakan situs yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan kerajaan Mataram Islam di Indonesia, sementara itu Kedaton

Bangunan cagar budaya yang juga menjadi los perdagangan dipertahankan.

Harianjogja.com, BANTUL - Pemerintah Kabupaten Bantul mempertahankan los pasar peninggalan zaman Belanda di kawasan Pasar Pleret karena sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB).

"Ada empat unit bangunan peninggalan Belanda berupa los dengan tiang di tengah, yang dalam pekerjaan rehab Pasar Pleret kemarin tidak diubah, dan tetap ada seperti semula," kata Kepala Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Bantul Slamet Santosa di Bantul, Minggu (12/4/2015).

Menurut dia, belum lama ini pihaknya telah selesai merehab bangunan Pasar Pleret dengan anggaran sebesar Rp3,3 miliar, rehab pasar tradisional tersebut dilakukan karena kondisi pasar lama memprihatinkan seperti becek saat turun hujan.

Ia mengatakan, tidak ada perubahan desain yang signifikan antara pasar lama dengan pascarehab, karena selain memperbaharui bangunan juga meninggikan lantai dan atap, agar air dari luar pasar saat turun hujan tidak masuk ke kompleks pasar.

"Kalau maunya semua bangunan diubah dengan menyesuaikan bangunan baru, namun karena (empat los) merupakan bangunan cagar budaya, sehingga tidak diubah, meskipun terlihat jomplang karena ketinggian lantai beda," katanya.

Namun demikian, kata dia, bangunan cagar budaya yang tiap los berukuran sekitar lima kali sepuluh meter tersebut kondisinya masih layak untuk ditempati pedagang meskipun usia bangunan termasuk rangka besi untuk memperkuat bangunan sudah puluhan tahun.

"Kondisinya masih bagus meskipun sejak zaman Belanda karena memakai rangka besi yang bagus, cuma modelnya sudah lama, karena sudah puluhan tahun berdiri, dahulu orang menyebutnya los Belanda," kata Slamet.

Menurut dia, los peninggalan zaman Belanda sebenarnya tidak hanya di Pasar Pleret, di beberapa pasar lain juga masih berdiri, di antaranya di Pasar Sangkeh, Pasar Celeb, Pasar Sungapan, sehingga keberadaan los Belanda itu harus terus dipertahankan.

"Dulunya los di beberapa pasar tersebut dibangun pada masa (penjajahan) Belanda, sebenarnya pernah ada satu yang terlanjur dibongkar karena belum tahu, sehingga waktu itu dikembalikan ke Dinas Kebudayaan," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis