HARI KARTINI : Pesona Mary Jane Kalahkan Hello Kitty

Rabu, 22 April 2015 19:20 WIB
HARI KARTINI : Pesona Mary Jane Kalahkan Hello Kitty

HarianJOgja/Gigih M. Hanafi Terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso tersenyum saat menyemarakkan peringatan Hari kartini di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Wirogunan, Jogja, Selasa (21/4).

Hari Kartini, Mary Jane berpartisipasi dalam perlombaan busana tradisional di Lapas Wirogunan.

Harianjogja.com, JOGJA-Peringatan Hari Kartini di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Wirogunan Jogja, Selasa (21/4/2015) tidak jauh berbeda dengan perhelatan tahun sebelumnya, seperti pertandingan olahraga antarblok, upacara, menghias tumpeng, berpakaian kebaya, dan peragaan busana. Namun, kali ini pesertanya luar biasa.

Di antara 94 warga binaan perempuan yang berpartisipasi, terdapat Mary Jane Fiesta Veloso, perempuan berusia 30 tahun yang sedang menunggu detik-detik eksekusi mati akibat kasus narkotika. Ada pula WR dan MAP, dua remaja yang menjadi tersangka penyekapan dan penganiayaan berlatar belakang tato Hello Kitty.

Mary Jane yang berasal dari Filipina tampil layaknya orang Jawa. Rambutnya yang panjang lurus berubah menjadi ikal gantung. Kulit wajah yang pucat menjadi merah merona dipulas make up. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 160 sentimeter, berbalut kebaya warna ungu dengan jarit bermotif flora.

Dengan wedge coklat, ia melangkah di hadapan banyak orang. Senyum menggantung di wajahnya. Sesekali dia melambaikan tangan. Dari seorang petugas lapas bernama Benny diketahui Mary Jane sudah berhias diri sejak pukul 05.00 WIB. Kebaya yang dikenakannya merupakan pinjaman dari seorang warga binaan. Dandanannya pun kreasi dari sesama warga binaan yang memang mahir merias.

“Selamat siang, saya Mary Jane dari Filipina,” ujar dia saat sampai di depan panggung.

Sapaan itu disambut dengan riuh tepuk tangan teman-teman sesama warga binaan. Setelah menyapa ia kembali berlenggak-lenggok ala peragawati di catwalk sederhana yang tak dilengkapi karpet.
Penampilan yang tak sampai lima menit ternyata memikat hati juri yang terdiri dari perwakilan Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia Sleman, petugas lapas, serta perwakilan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM DIY. Terpidana mati itu pun berhasil meraih peringkat III dalam lomba fashion show, mengalahkan penampilan dua tersangka kasus Hello Kitty yang masing-masing mengenakan kebaya berwarna merah dan putih.

Ibu dari dua anak tak menyangka bisa mendapatkan peringkat di lomba. Mary Jane merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian wartawan. Ia datang terlambat ke dalam aula pertemuan. Ia sempat tidak terlalu berminat hadir karena malas berhadapan dengan awak media massa. Belakangan Mary Jane memang menjadi pusat perhatian karena statusnya sebagai terpidana mati.

Namun, Mary Jane tetap ikut perayaan Hari Kartini. Dia memasuki ruangan didampingi seorang petugas perempuan sekitar pukul 09.30 WIB. Ia memilih untuk duduk paling depan, dekat dengan panggung band pengisi musik. Kehadirannya yang sudah dinanti sejak pukul 08.00 WIB sontak membuat puluhan lensa menyorot sosoknya.

Tak sampai setengah jam, Mary Jane terlihat berbisik dengan petugas di sampingnya. Petugas menggandengnya untuk pindah tempat duduk di bagian belakang. Mary Jane duduk dan menerima tisu yang diberikan oleh petugas lainnya. Ia menyeka air mata yang perlahan jatuh ke pipinya.

“Mary Jane merasa tidak nyaman karena sejak datang dia selalu menjadi fokus teman-teman wartawan,” Zaenal Arifin, kepala Lapas Wirogunan memberi penjelasan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online