RSPS Bantul Soroti Masalah Rujukan BPJS, Ini Kendala Sering Dikeluhkan
RSUD Panembahan Senopati Bantul menyoroti berbagai kendala sistem rujukan BPJS Kesehatan yang masih sering dikeluhkan pasien dalam layanan JKN.
PERUMAHAN BOLON Pekerja menyelesaikan pembuatan rumah di kawasan perumahan Bolon, Colomadu, Karanganyar, Jumat (30/8). Perumahan di Bolon, Karanganyar yang menjamur sejak enam tahun terakhir, mengancam eksistensi lahan pertanian di daerah tersebut.
Perumahan di Jogja diketahui tidak mempedulikan fasilitas umum
Harianjogja.com, JOGJA-Lembaga Ombudsman DIY menerima banyak aduan masyarakat soal fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum-fasos) yang bermasalah di sejumlah perumahan di DIY.
Padahal keberadaan fasum-fasos mutlak adanya, bahkan pengembang perumahan harus menyediakan 40% dari total luas perumahan yang dibangun.
Dasar hukum penyediaan fasum dan fasos oleh pengembang perumahan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyerahan Prasarana, Sarana dan Utilitas Perumahan dan Permukiman di Daerah.
"Faktanya ternyata masih banyak pengembang perumahan yang tidak mengindahkan fasum dan fasos," kata Komisioner Ombudsman DIY Bidang Penelitian dan Pengembangan, Nur Wening dalam diskusi 'Evaluasi Implementasi Manajemen Fasum-Fasos Perumahan di DIY di kantor Ombudsman Kamis (30/7/2015).
Menurut Wening, yang dimaksud fasum dan fasos adalah jalan, jembatan, saluran air, instalasi pembuangan air limbah (Ipal), pemakaman, sampai fasilitas ibadah. Namun, saat ini meskipun, ada fasum yang disediakan banyak yang tidak sesuai yang dijanjikan pihak pengembang. Di sisi lain pemerintah juga dinilai tidak banyak berbuat melihat persoalan fasum yang bermasalah di perumahan.
Wening mengungkapkan, dalam kurun 2005-2015 ini, Ombudsman DIY menerima laporan yang terjadi di perumahan sebanyak 33 kasus. Sebanyak 12 kasus di antaranya terkait dengan keluhan fasum dan fasus. Sementara sisanya keluhan soal ijin mendirikan bangunan (IMB) dan kualitas bangunan yang tidak memuaskan.
"Mayoritas persoalan fasum dan fasos yang dipermasalahkan ada di Kota, Sleman, dan Bantul," ungkap Wening.
Wening mensinyalir kurangnya pengawasan dari pemerintah daerah menjadi salah satu penyebab, kurang diperhatikannya fasum dan fasos oleh pengembang. Bahkan Wening mengaku menemukan ada pengembang sengaja menjual lahan fasum dengan membangun kapling.
Untuk menjaga ketersediaan fasum di perumahan, Wening mendorong ada komunitas pengawas fasum dari penghuni perumahan. "Saya kira komunitas pengawas fasum oleh penghuni perumahan akan lebih efektif," ucap Wening.
Sebakri, selaku Kepala Seksi Perencanaan Perumahan, Bidang Permukiman, Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman, Energi Sumber Daya Mineral (DPUP-ESDM) DIY saat dihubungi mengakui pihaknya belum memiliki regulasi untuk mengawasi fasum dan fasos di perumahan. Menurutnya, fasum dan fasos di perumahan ijinnya menjadi tanggungjawab masing-masing pemerintah kabupaten dan kota.
Namun demikian Subakri mengaku penting untuk membuat regulasi pembangunan perumahan. Hal itu juga sudah menjadi pembahasan di DPUP-ESDM DIY, "Kami akan menyiapkan regulasinya segera," kata Subakri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RSUD Panembahan Senopati Bantul menyoroti berbagai kendala sistem rujukan BPJS Kesehatan yang masih sering dikeluhkan pasien dalam layanan JKN.
Polda DIY memperkuat patroli dan edukasi masyarakat untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
KPK memeriksa Kepala BPK Jateng Ahmad Luthfi H. Rahmatullah sebagai saksi kasus dugaan suap pengondisian audit Muara Enim.
Sebanyak 500 mahasiswa lolos Sleman Pintar 2026 dari 1.250 pendaftar. Danang Maharsa meminta penerima kuliah serius dan berprestasi.
243 reklame rokok ditemukan tak berizin dan tak bayar pajak di Kulonprogo. DPRD menyoroti potensi kebocoran PAD dari reklame.
Herlina Pakpahan meminta Srikandi Hanura turun langsung menyerap aspirasi perempuan melalui kaderisasi, pengabdian dan solidaritas.