KEKERINGAN GUNUNGKIDUL : Petani Tembakau Mulai Kesulitan Air

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Minggu, 09 Agustus 2015 17:21 WIB
KEKERINGAN GUNUNGKIDUL : Petani Tembakau Mulai Kesulitan Air

Petani menunjukkan bibit tembakau yang akan ditanam di lahan persawahan bekas padi di Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (3/7/2015). Para petani Demak tersebut kini beralih menanam tembakau di lahan sawah mereka karena debit air irigasi tidak mencukupi kebutuhan pengairan untuk tanaman padi. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)

Kekeringan Gunungkidul dirasakan petani tembakau.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Petani tembakau di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami kesulitan air untuk menyirami tanaman yang mengakibatkan kualitas tembakau kurang bagus.

Salah seorang petani tembakau Desa Wareng, Sutrisno, di Gunung Kidul, Minggu, mengatakan hama yang menyerang tanaman tembakau menyebabkan tanaman tembakau tidak tumbuh maksimal dan bobot daunnya berkurang.

"Kami memiliki lahan tembakau 2.000 meter persegi. Kami hanya mampu menjual tembakau Rp7 juta atau hanya kembali modal," kata Sutrisno, Minggu (9/8/2015).

Ia mengatakan musim kemarau kali ini, pihaknya terpaksa membeli air dari pihak swasta sebesar Rp70.000 pertangki. Pihaknya berusaha menahan air dengan cara membuat kolam namun justru airnya tidak dapat bertahan lama.

"Padahal setiap minggunya, saya menghabiskan empat tangki air bersih hanya untuk menyiram," kata dia.

Sutrisno mengaku operasional penanaman tembakau terus meningkat. Selain air, ia juga harus membeli obat, bibit serta keperluan yang lain.

"Hama juga menyerang tanaman tembakau. Petani di sini juga mengeluhkan menurunnya kualitas tembakau yang kami hasilkan akibat minimnya asupan air bersih," katanya.? Akibat hama tanaman menjadi pendek dan daun tidak lebar, sehingga kualitas menurun. Ia berharap ada solusi terkait masalah ini. "Hanya tumbuh setengah meter," katanya.

Hal senada diungkapkan Hartono, petani tembakau lainnya yang mengaku merugi akibat tanaman tembaku yang kurang asupan air bersih ini.

"Kalau kualitas tembakau justru malah baik sekarang, tetapi kalau tidak ada hujan seperti ini tanaman kami jadi layu kurang berbobot," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis