MUSIM KEMARAU : El Nino Sampai Desember, Sleman Kekeringan Ekstrem

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Rabu, 12 Agustus 2015 10:20 WIB
MUSIM KEMARAU : El Nino Sampai Desember, Sleman Kekeringan Ekstrem

Petani memotong tanaman padi yang gagal panen akibat deraan musim kemarau 2015 di Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/7/2015). Demi mengurangi kerugian akibat gagal panen, petani mengumpulkan tanaman padi yang kering itu untuk dimanfaatkan atau dijual sebagai pakan ternak sapi dan kerbau. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)

Musim kemarau di Sleman diprediksi berlangsung hingga akhir tahun.

Harianjogja.com, SLEMAN-El Nino diperkirakan akan terjadi sampai Bulan Desember. Hal tersebut membuat wilayah Indonesia sisi selatan garis Katulistiwa, termasuk DIY, mengalami musim kemarau yang panjang.

Dalam kondisi normal, musim kemarau di wilayah Sleman terjadi Mei hingga Oktober. Namun dengan adanya El Nino, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY memperkirakan musim hujan menjadi mundur. Awal musim hujan baru terjadi akhir November dengan jumlah curah hujan di bawah normal.

"Curah hujan berkurang 50 sampai 70 persen dari rata-ratanya," kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG DIY, Tony Agus Wijaya, Selasa (11/8/2015) saat menggelar jumpa pers di ruang setda Sleman.

Ia mengatakan dampak El Nino sudah mulai dirasakan. Seperti hari tanpa hujan (HTH) yang panjang yang dialami beberapa daerah di Sleman. Dari pantauan BMKG DIY sampai Senin (10/8/2015), seluruh wilayah Sleman mengalami 60 HTH berturut-turut.

"Kondisi seperti itu masuk kategori kekeringan ekstrem," tegas Tony.

Daerah yang mengalami HTH terpanjang adalah Dusun Dolo, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak yakni 74 hari dan terpendek di Dusun Beran, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman yakni 60 hari.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman Sapto Winarno menegaskan, meski kemarau panjang, kondisi 27 sumber air yang ada di Sleman masih stabil. Bahkan debit air di Umbul Lanang dan Umbul Wadon di Desa Umbulharjo Cangkringan bertambah.

"Pantauan Mei, debit air Umbulwadon 549 liter per detik. 5 Agustus naik jadi 667 liter per detik," kata dia. Sementara untuk kekeringan tahun ini, pihaknya telah menyediakan 37 sumur pompa yang tersebar di Kecamatan Ngemplak, Ngaglik, dan Kalasan.

Melihat adanya peningkatan debit air di Umbul Lanang dan Umbul Wadon tersebut, Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi mengatakan dampak kekeringan di Sleman masih dapat tertangani. Kewaspadaan hanya pada menurunnya sumur dalam karena mengalami penurunan debit.

"Sumber air di Sleman stabil. Pola tanaman dengan kearifan lokal juga sudah berjalan. Tapi sumur-sumur dalam perlu diwaspadai karena mengalami penurunan debit," ungkapnya.

Dua hal yang menurut Gatot perlu ditindaklanjuti selama musim kemarau panjang, pertama adalah ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan kedua perubahan kebijakan pertanian.

Untuk ketersediaan air bersih, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman telah mempersiapkan rencana dropping air jika diperlukan. Sementara untuk perubahan kebijakan pertanian, petani di Sleman telah menerapkan pola tanam padi-padi-palawija dan adapula padi-palawija-padi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online