IDULADHA 2015 : Usaha Bumbu Racik Raup Untung
Supriastuti dan karyawannya sibuk mengemasi aneka bumbu racikan di rumahnya, Dusun Kedung Galih, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, Selasa (22/9/2015).(Harian Jogja/Rima Sekarani I.N)
Iduladha 2015 menjadi berkah bagi penjual bumbu racik
Harianjogja.com, KULONPROGO- Musim Lebaran haji ibarat masa panen bagi Supriastuti. Warga Dusun Kedung Galih, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo ini mampu menjual hingga 5.000 bungkus aneka bumbu racik masakan khas Idul Adha.
Ibu tiga anak yang akrab disapa Tutik itu tampak kaget ketika beberapa wartawan datang ke rumahnya, Selasa (22/9/2015) siang. Dia buru-buru merapikan ruang tamunya yang dipenuhi berbagai bumbu masakan. Sibuk sendiri, tiga karyawannya tetap melanjutkan tugas pengemasan aneka bumbu masalah daging. “Mulai bikin bumbu Jumat [18/9/2015] kemarin karena Senin [21/9/2015] sudah mulai diambil,” kata Tutik.
Tutik masih berusaha membersihkan ruang tamunya dengan menjumputi potongan plastik kemasan dan menumpuk kardus berisi produk bumbu racikannya. Dia benar-benar tidak menyangka akan kedatangan tamu. “Sudah sejak tahun 2004, 11 tahun lalu. Waktu itu masih mengulek sendiri, belum digiling. Jualannya keliling pakai sepeda onthel,” ujarnya.
Sebelum bergelut dengan bumbu dapur seperti sekarang, Tutik dan suaminya, Syimron Guswanto, mengalami jatuh bangun. Mereka bahkan sempat mengadu nasib di Jakarta namun memilih pulang karena tidak betah. “Karena sudah mentok, kami berpikir lebih keras. Apa sih yang belum ada di Wates?” tutur perempuan 39 tahun itu.
Setelah merasa ruang tamunya lebih luang untuk menjamu para tamu, Tutik menunjukkan satu per satu produknya. Ada bumbu rendang, tongseng, sate, bistik, soto, gulai, dan lainnya. Semua bumbu sudah halus tergiling dan dalam kondisi matang. Konsumen hanya perlu menambahkan garam dan gula sesuai selera. “Kalau masih mentah, bakal ada reaksi kimia yang bikin bumbunya jadi kecut,” kata Tutik.
Bumbu racikan Tutik bisa awet hingga seminggu. Jika disimpan dalam kulkas, daya tahannya mencapai sebulan. “Saat bumbunya dimasak, sudah dikasih garam dan gula. Itu jadi pengawet alami,” ucapnya.
Tutik bisa menjual hingga 5.000 kemasan aneka bumbu racik pada perayaan Idul Adha, lebih banyak dibanding menjelang Idul Fitri yang rata-rata sekitar 2.000 – 3.000 kemasan. Setiap kemasan merupakan takaran untuk setengah kilogram daging. “Idul Adha pada dapat daging gratis jadi yang butuh bumbu lebih banyak. Bumbu rendang paling laku, bisa sampai 2.000 kemasan,” ungkap Tutik.
Seorang pelanggan bernama Tinyati datang. Sembari melayani, Tutik mengenalkan Tinyati sebagai orang yang pertama kali membantu dia menjual produknya. “Setia sama saya sejak 11 tahun lalu,” kata Tutik sambil tersenyum.
Tinyati biasa menjual bumbu racikan Tutik kepada guru dan karyawan di sekolah hingga pegawai kantoran. Meski hanya pedagang musiman, hasil penjualannya bisa diandalkan sebagai penghasilan tambahan. Siang itu bahkan sudah kali kedua dia datang ke rumah Tutik. “Tadi pagi sudah ambil 120 bungkus. Ini tambah 50 bungkus,” ungkap Tinyati warga Dusun Karangtengah Lor, Desa Margosari, Pengasih, Kulonprogo itu.
Sehari-hari, Tinyati berjualan makanan pempek di depan SMP Negeri 1 Pengasih. Dia hanya menjual bumbu racikan Tutik setiap menjelang Idul Adha dan Idul Fitri. Tutik pun demikian. Pada hari biasa, dia sibuk menjual aneka masakan sayur dan lauk untuk dijual kembali oleh pedagang di pasar maupun rumah makan. Sesekali, dia juga melayani jasa katering.
Saat ini, usaha yang dijalankan Tutik dan suami memang semakin berkembang. Dia berusaha terus menjaga kualitas produk. “Kalau produksi besar begini, saya dan suami yang pegang langsung, bukan karyawan. Takarannya harus pas,” ungkap Tutik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share